Oleh: Dr. Wahyu Lay, Penulis Ahli EmitenUpdate.com


SANGGUPKAH orang muda menjadi teladan? Mungkin itu pertanyaan yang ada di benak kita karena berbicara tentang keteladanan seringkali identik dengan tingkatan usia. Mereka yang lebih tua patut dijadikan teladan karena banyak pengalaman hidup yang telah dijalani.

Namun kita juga perlu mengingat bahwa kesempatan untuk menjadi teladan juga sangat terbuka bahkan sejak usia muda. Paulus memberi nasihat kepada Timotius agar dapat menjadi contoh yang baik bukan saja dalam perkataan namun juga dalam tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian.

Paulus menasihatkan hal ini karena Paulus sangat yakin bahwa Timotius dalam kemudaannya memiliki daya, potensi, dan ketangguhan untuk menjadi teladan bagi banyak orang. Ketika sedang membangun bangsa, Ir. Soekarno pernah menantang bangsa Indonesia dengan suara lantang “berikan aku 10 pemuda, maka aku akan mengguncang dunia”.

Jiwa dari ungkapan ini sangat jelas bahwa kaum muda bukanlah gambaran manusia lemah dan tak berdaya, justru kaum muda adalah poros masa kini dan masa depan kehidupan bangsa dan juga gereja. Lalu bagaimana kaum muda dapat menjadi teladan di tengah tantangan zaman yang makin beragam?

Pertama, kaum muda harus memiliki spiritualitas seorang murid. Yesaya 50:4 Murid yang taat adalah murid yang menyerahkan diri, melatih kehendak, kata dan sikapnya dipimpin oleh Tuhan.

Menjadi seorang murid berarti menyediakan diri untuk dipersiapkan Tuhan menjadi cahaya yaitu memberi semangat yang baru bagi mereka yang kehilangan daya serta memiliki kehidupan yang inspiratif.

Kedua, kaum muda harus terkawal dalam pergaulannya. Kondisi saat ini terdapat jurang antara paradigma orang tua dan dunia orang muda.

Rata-rata pandangan orang tua terhadap kaum muda memang terlihat negatif. Kaum muda dianggap sebagai pribadi yang kurang bertanggung jawab, tidak mau bekerja keras, ceroboh, tidak tahan banting dan hedonis. Sedangkan kaum muda punya harapan terhadap orang tua.

Mereka berharap agar orang tua lebih banyak waktu dengan mereka, lebih memahami kebutuhan, hadir secara fisik dan memenuhi harapan mereka.

Situasi ini akhirnya berujung pada konflik. Orang tua enggan menjadi pendamping bagi kaum muda begitu juga dengan kaum muda yang hanya ingin menjadi pribadi sebebas-bebasnya tanpa merasa perlu untuk mendapatkan pendampingan. Situasi yang seperti ini harus segera ditanggapi.

Jika kaum muda ingin menjadi teladan maka ia harus memiliki kerendahan hati untuk dikawal.

Dengan pendampingan dari orang tua, maka ia akan belajar banyak hal dari „sekolah kehidupan‟ yang diwariskan orang tuanya, mencernanya, menanamkan dalam hatinya segala sesuatu yang baik, dan menghasilkan buah kehidupan yang patut dicontoh bagi banyak orang.

Timotius seorang muda bisa menjadi teladan karena dalam kehidupannya selalu mendapatkan teladan dari Paulus dan contoh konkrit kesalehan dari Eunike ibunya dan Lois neneknya.

Paulus membimbing Timotius tidak hanya dengan cara memberikan nasihat, tapi Paulus membawa Timotius untuk mengikuti hidupnya dan hidup Kristus. Paulus mengajak Timotius keluar dari Listra untuk misi penginjilan ke berbagai kota dan mengajak Timotius ikut menderita dalam pemberitaan Firman.

Paulus ingin agar Timotius pada akhirnya menjadi pemimpin yang dalam kemudaannya mampu menjadi teladan bagi orang-orang percaya.

Hai kaum muda, jangan seorang pun menganggap engkau tak berharga karena kemudaanmu. Jadilah teladan bagi setiap orang percaya melalui tutur katamu, perbuatanmu, pernyataan kasihmu, kesetiaanmu dan kemurnian hatimu.
Tuhan memberkati. ***

By emiten

Leave a Reply

Your email address will not be published.