Oleh: Dr. Wahyu Lay, Penulis Ahli EmitenUpdate,com

Ketergantungan Religius Ahli fenomenologi agama kemudian seperti Rudolf Otto dan G. Van der Leeuw mengakui kebenaran dari pernyataan Schleiermacher, kendatipun tidak seluruhnya. Salah satu ciri khas pengalaman beragama ialah rasa ketergantungan. Rasa ketergantungan ini memang tidak khas pengalaman beragama.

Sejak lahir Ridwan sudah merasa tergantung pada orang lain dan benda-benda: orang tua, kakak, pengasuh, udara, makanan. Ia perlu menghirup udara bila ia tidak ingin mati seketika. Tetapi semua ketergantungan itu bersifat parsial bagi kehidupan manusia.

Ketergantungan yang melibatkan diri seutuhnya, atau ketergantungan yang bersifat eksistensial membutuhkan pemahaman. Karena itu hanya makhluk rasional mampu menjalankan ketergantungan secara sungguh-sungguh. Kebesaran manusia menurut B. Pascal terletak pada kenyataan bahwa manusia sadar ia tergantung pada yang lain.

Dengan nada yang sangat menarik B. Pascal mengatakan bahwa manusia akan tetap lebih luhur daripada alam yang membunuhnya, yang menghancurkannya.

Alasannya ia tahu bahwa ia mati. Alam mungkn merasa beruntung karena manusia mati, tetapi manusia lebih beruntung, karena manusia sadar bahwa ia dibunuh sedangkan alam raya tidak merasakan itu.

Ketergantungan dalam konteks beragama adalah ketergantungan total. Laniwati tidak hanya perasaan diserahkannya pada Tuhan. Pikiran dan perasaan dilibatkan seluruhnya dalam pengalaman itu. Ia merasa diri tidak berarti si hadapan Sang Pencipta.

Seperti kata Abraham beberapa ribu tahun yang lalu: aku hanya debu dan abu dihadapan Tuhan. Ia tidak berarti sedikit pun dihadapan Sang Ilahi. Rasa ketergantungan merupakan sebuah pengakuan ketakberdayaan eksistensial. Estetis Dan Kesehatan Nyonya Rositawati mempunyai berat badan 80 kg, padahal tingginya hanya 160 cm. Ia memang doyan makan.

Anak-anak dan tetangganya takut selain pintu rumah akan diperlebar, tetapi juga mereka takut kehilangan ibu yang lucu dan jenaka ini karena serangan jantung.

Ibu Rosi demikian ia dipanggil, malu sendiri kalau berenang di kolam renang umum. Ia memmutuskan untuk diet. Diet berarti ia berpuasa agar menjadi cantik seperti ketika ia berumur 18 tahun. Ini namanya puasa estetis dan puasa kesehatan. Di Wetik terdapat sebuah kuburan yang angker. Tetapi tempat itu menjadi sangat penting, bila Rahmat ingin menjadi dukun besar.

Ia mesti tidur disana dan berpuasa tiga hari tiga malam. Bila ujian puasa ini dilalui dengan baik, ia berhak menjadi dukun. Konon segala kekuatan istimewa dapat diperolehnya. Ia disegani di seantero kecamatan.

Puasa Keagamaan tidak semua puasa adalah puasa keagamaan. Sering puasa digunakan untuk kepentingan diri sendiri. Jenis puasa yang lain bersifat horizontal atau bersifat egoistik. Orang ingin menjadi langsing, sehingga dipuji dan dilirik orang. Ia mendapat kekuatan gaib sehingga disegani dan dihormati orang.

Puasa dalam kehidupan beragama, justru membawa orang ke dalam pengalaman paling dasar, ia manusia sementara, tergantung sepenuhnya pada yang lain. Berpuasa berarti orang secara sadar mau menyadari kembali kerapuhan hidupnya.

Dengan pengalaman kerapuhan fisik ini orang menjadi lebih sadar akan keberadaan Sang Ilahi. Dalam bahasa fenomenologi agama, puasa adalah usaha yang sadar sehingga manusia tetap terbuka pada Sang Ilahi. Dengan mengakui keterbatasan, rasa sakit oleh puasa, manusia mengakui kehadiran sang pencipta sebagai penolong. Manusia dari dirinya sendiri adalah makhluk yang rapuh.

Ia gagal bila ia menggantungkan kehidupannya pada dirinya sendiri. Puasa berarti pula, sebuah pengakuan bahwa pada dasarnya manusia gagal mengatur kehidupannya secara sempurna. Karena itu, puasa dalam kehidupan beragama dikaitkan dengan sikap tobat yakni sikap untuk selalu kembali ke akar hidupnya yakni Allah dengan melepaskan dosa.

Dimensi Vertikal Dilihat dari segi filsafat agama, berpuasa dalam konteks keagamaan adalah sebuah tindakan yang bersifat vertikal. Ini menunjukkan keterbukaan manusia, dengan mengakui bahwa ia makhluk yang rapuh.

Egoisme, yang berarti sikap tertutup dalam eksistensi manusia karena hanya mementingkan diri, mau dihilangkan dengan puasa. Tujuan puasa tidak lain ialah menciptakan dalam diri manusia sikap terbuka tanpa pamrih, kepada Dia yang tidak dapat diinderainya, kepada Dia yang tidak memberi pujian dan ganjaran secara langsung kepadanaya.

Manusia dari segi filsafat adalah makhluk rohani dan jasmani. Ia mempunyai ruang lingkup sosial. Karena itu, setiap agama mengaitkan puasa dengan kepedulian sosial. Ia mesti mengusahakan kesejahteraan masyarakat. Keterbukaan yang digariskan tindak-laku berpuasa, mesti berdampak sosisal.

Derma atau sumbangan yang diberikan waktu puasa mesti tanpa pamrih. Bila Retno memberi sedekah pada Kardosianti agar ia dianggap saleh, ia membuat kesalahan baru. Puasa agama diselewengkan kepada kepentingan sendiri, ia ingin dipuji. Puasa pertama-tama bukanlah tindakan sosial, tetapi sebuah tindakan sangat pribadi yakni mengukuhkan hubungan saya dengan Sang Lain.

Tindakan sosial penting sebagai wujud nyata dari sikap terbuka saya pada Sang Lain itu. Egoisme merupakan sikap tertutup dan mau menguntungkan diri sendiri saja. Dengan demikian orang lain dapat menjadi korban dari usaha mementingkan, memperkaya diri sendiri. Karena itu keterbukaan kepada Allah, merasa tergantung kepadaNya, mesti berwujud dalam takaran sosial.

Ketertutupan Baru Zaman kita, adalah zaman mencairnya dua ideologi besar.komunisme dan kapitalisme . Pengkotakan berdasarkan ideologi mulai mencair. Alat-alat komunikasi begitu canggih sehingga dunia menjadi satu. Jarak dipersingkat oleh pesawat modern, telepon dan televisi.

Tetapi kini muncul gejala ketertutupan baru dengan munculnya kembali primordialisme berdasarkan darah, agama dan sejarah. Pencemaran lingkungan karena keserakahan pemegang modal dengan membangun industri pekat pencemaran, perang ekonomi yang akan muncul pada beberapa tahun yang akan datang, menunjukkan bahwa globalisasi hanya pada permukaan.

Silisasi hanya pada permukaan. Sikap terbuka sungguh-sungguh yang muncul dari dalam tidak terjadi dan mungkin tidak tidak akan terwujud. Manusia pada dasarnya mempunyai kecenderungan gampang menjadi tertutup, mementingkan dirinya sendiri.

Puasa mengandung pesan bagi dunia,bahwa hidup bukan hanya hari ini dan disini. Itu tidak berarti agama hanya mengajarakan masa depan lewat puasa. Puasa sebaliknya mau menunjukkan sifat kekinian dari agama.

Sikap terbuka, sikap tidak egois bukan tuntutan di masa depan, tetapi tuntutan riil masa kini. Orang diadili mendapat keselamatan atau tidak bukan nanti tetapi kini, oleh perbuatannya pada masa kini,. Puasa mau menunjukkan masa kini tidak boleh ditutup untuk kepentingan hari ini saja. ***

By emiten

Leave a Reply

Your email address will not be published.