AADI: Laba Bersih +130% QoQ pada 2Q26, 1H26 Lampaui Ekspektasi

Stockbit’s take:
- Adaro Andalan Indonesia ($AADI) mencatat laba bersih US$330 juta pada 2Q26 (+42% YoY, +130% QoQ), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai US$474 juta (+10% YoY) dan melampaui ekspektasi karena setara 48% estimasi 2026F konsensus (vs. rata–rata 2 tahun terakhir: 64% realisasi tahunan).
- Kami menilai kinerja AADI selama 2026 berpotensi melampaui ekspektasi 2026F konsensus, meski risiko utama datang dari sisi logistik, di mana penurunan debit sungai di Kalimantan akibat El Nino berpotensi menghambat distribusi dan volume penjualan.
- Kenaikan laba bersih pada 2Q26 utamanya didorong oleh pertumbuhan laba kotor menjadi US$525 juta (+51% YoY, +104% QoQ), dengan ekspansi margin laba kotor ke level 34,9% (vs. 2Q25: 28,2%, 1Q26: 24,7%).
- Kenaikan laba kotor dan margin laba kotor secara kuartalan pada 2Q26 didorong oleh kenaikan pendapatan+44% QoQ, yang didorong kenaikan harga jual rata–rata (ASP) batu bara menjadi US$75,6/ ton (+15% QoQ) dan pertumbuhan volume penjualan menjadi 18,4 juta ton (+22% QoQ).
- Sementara itu, beban pokok pendapatan pada 2Q26 tumbuh lebih moderat (+24% QoQ), dengan cash cost turun menjadi US$41,2/ton (-2% QoQ).
ASP Batu Bara Menguat seiring Kenaikan Harga Energi Global
AADI membukukan kenaikan ASP batu bara menjadi US$75,6/ton pada 2Q26 (+13% YoY, +15% QoQ), sejalan dengan penguatan harga batu bara global akibat mengetatnya pasokan LNG dan kenaikan harga energi seiring konflik di Timur Tengah. Sementara itu, volume penjualan meningkat menjadi 18,4 juta ton pada 2Q26 (+5% YoY, +22% QoQ), didukung oleh kuota produksi AADI yang sampai saat ini tidak mengalami pemangkasan pada RKAB 2026.
Cash Cost Turun secara Kuartalan seiring Penurunan Stripping Ratio
Cash cost AADI turun secara kuartalan menjadi US$41,2/ton pada 2Q26 (+7% YoY, -2% QoQ), seiring dengan penurunan stripping ratio menjadi 3,8x (vs. 2Q25: 4,3x, 1Q26: 4,2x).
Stockbit’s View
- Secara keseluruhan, kami menilai kinerja AADI pada 2Q26 menunjukkan hasil yang positif, didukung oleh kenaikan ASP dan pertumbuhan volume penjualan yang mendorong pertumbuhan pendapatan dan ekspansi margin.
- Ke depan, kami memproyeksikan harga batu bara tetap berada di level yang relatif tinggi, karena krisis energi berkepanjangan akibat konflik Timur Tengah serta tren meningkatnya permintaan batu bara menjelang musim dingin pada akhir tahun, sementara volume penjualan diperkirakan tetap terjaga dengan tidak adanya pemangkasan kuota RKAB 2026.
- Dengan asumsi harga batu bara berada di level yang tinggi, di mana harga ICI–3 saat ini telah naik naik +37% YTD ke level US$85,7/ton per Jumat (28/8), kami memproyeksikan AADI dapat mencetak laba bersih sekitar US$300 juta pada 3Q26 dan 4Q26, sehingga laba bersih 2026F berpotensi mencapai sekitar US$1 miliar dan melampaui ekspektasi (105% estimasi 2026F konsensus).
- Namun, terdapat risiko dari sisi logistik yang berpotensi menghambat distribusi dan volume penjualan akibat penurunan debit sungai di Kalimantan yang dipengaruhi El Nino.
Christian William Munaba (@chriswill97)
Investment Analyst Stockbit
https://stockbit.com/post/35270326
