Oleh: Dr. Wahyu Lay, Dosen Filsafat, Penulis Ahli EmitenUpdate.com


Menurut Bateson, problem dasar dalam permasalahan ekologis ialah kebudayaan Barat, yang melihat manusia sebagai “raja” alam semesta (khususnya bumi kita ini) dan sebagai “kriterium” dalam kekayaan alam ini, dengan teknologi raksasa, dan dengan produksi yang semakin meningkat, bukan selamanya demi kebutuhan manusia yang wajar, tetapi untuk sebagian yang cukup besar demi “konsumerisme” itu.

Disini patut dicatat bahwa bahkan filsafat Karl Marx (1818-1883) tidak terkecuali dari kritik Bateson tersebut. (meskipun Bateson sendiri, tidak membicarakannya). Dalam filsafat Marx, kekayaan alam adalah demi manusia, dan manusia tidak hanya membutuhkannya sebagai kebutuhan pragmatis semata-mata, tetapi juga untuk “merealisasikan” dirinya.

Tentunya manusia itu harus mengolah bahan mentah sehingga bisa menguntungkan manusia dalam bentuk jadi. Untuk itu perlu bekerja, dan memang bekerja, menurut Marx, termasuk hakekat manusia. Yang penting bagi Marx adalah segi ekonomis dari masalah dasar tadi. Dalam “kapitalisme”, maka hanya sejumlah kecil orang kaya raya memperalatkan kaum buruh (“proletariat” itu) untuk mengolah bahan mentah demi si kapitalis itu sendiri : gajinya
amat kecil, dan kaum buruh melarat.

Hal itu bagi Marx sama saja dengan memperlakukan kaum buruh sedemikian rupa seakan-akan kaum buruh tu sendiri sama saja dengan bahan mentah itu. Akibatnya : kaum buruh itu “diasingkan” dari dirinya sendiri, karena direndahkan
menjadi seakan-akan bahan mentah itu sendiri. Jika kita membandingkan sikap Marx itu dengan pendekatan Bateson, maka tampaknya bahwa manusia bagi Marx tetap merupakan kriterium utama terhadap kekayaan alam, dan alam itu tidak disegani demi keutuhan alam itu sendiri.


Sifat khas ini tidak merupakan sifat khas hanya dari filsafat Marx saja. Di Barat, maka manusia itu dianggap luhur sedemikian rupa sehingga keluhurannya diandaikan berkuasa atas alam secara hampir absolut. Tetapi sekarang boleh ditanyakan haruskah keluhuran manusia di cari dalam “perpisahan” dari alam itu.

Manusia Barat secara kultural ada dalam bahaya memperalatkan alam dan kekayaannnya daripada bersatu dengannya, dan mencari kebutuhan-kebutuhan yang lebih sederhana di dalamya. Dengan demikian juga manusia”diasingkan” dari alam dan juga dari dirinya sendiri. Akibatnya juga bahwa identitas manusia diasingkan dari tubuhnya, karena tubuh manusia merupakan kesatuan akrab dengan alam itu.

Bagaimanakah bayangan manusia Barat tentang alam itu? Sejak filsafat Yunani Kuno, maka alam itu merupakan suatu keseluruhan yang “tertutup”, artinya yang mencukupi untuk dirinya sendiri. Manusia itu sendiri tidak bertransendensi terhadap alam itu, dalam filsafat zaman “pra-Sokrates” (600 sampai 300 sebelum Masehi).

Memang, dalam filsafat Plato, ada juga suatu kenyataan “adi-duniawi” yang diakui, tetapi terpisah secara “dualistis” dari dunia yang fana ini, dan dunia yang fana ini tetap merupakan suatu sistem yang tertutup, dengan manusia yang bertransendesnsi terhadap dunia ini hanya sejauh ia punya “jiwa”.

Dalam filsafat dan teologi Kristiani di Barat selanjutnya alam itu sebenarnya merupakan suatu “dunia”, seperti dipaparkan diatas. Dan manusia itu sebenarnya agak “asing” terhadap “dunia” ini. Yang fana merupakan sesuatu yang “tertutup” justru karena dilawankan dengan yang “baka”), dan tidak seluruhnya termasuk yang “baka” (karena ia tetap juga berupa “fana”).

Bayangan seperti itu terpaksa akan menjadikan manusia sesuatu makhluk yang rindu akan yang baka dan sekaligus “agresif” terhadap fana.


Dualisme tersebut menjelaskan mengapa gerangan manusia Barat mudah cenderung ke arah “materialistis”. Materi dan yang non materi (mis. Yang “rohani”) tidak pernah akan bisa diperdamaikan satu dengan yang lainnya. Bahkan orang yang “spiritualistis” merasa haruslah menjadi “spirituil” karena yang “materiil” adalah tak terelakkan, sedikitnya selama hidup manusia di “dunia” ini.

“Spiritualisme” hanya berarti bahwa “materialisme” ditempatkan pada tempatnya yang dianggap “sesuai” (yaitu, sebagai yang “fana”); tetapi “spiritualisme” TIDAK bisa lepas dari “materialisme” seluruhnya, hanya bisa membuat RELATIF “materialisme” tersebut.

Masalahnya pada dasarnya bukan masalah filosofis, melainkan suatu masalah budaya : bukannya filsafat tentang segi kulturil manusia yang bisa memecahkan masalah itu; justru sebaliknyalah, penelaahan kulturil tentang filsafat (Barat) yang harus memecahkannya.

Dan akhirnya filsafat akan mendapatkan keuntungan dari padanya: filsafat lalu tidak begitu menjadi “kulturosentris” dapatkah anda masih merumuskan masalah “kulturosentrisme” dengan tepat dan lengkap?). ***

By emiten

Leave a Reply

Your email address will not be published.