August 19, 2026

Pekan Nasional Petani dan Nelayan, Spanduk Membentang “Lanjutkan MBG”

0
Screenshot (3273)

Presiden Prabowo Subianto Menyalami Warga Di Gorontalo.

Sekitar 60% anak-anak dari kalangan ini tidak punya akses yang baik terhadap makanan dengan gizi seimbang.

GORONTALO, EmitenUpdate.com – Data dari Badan Gizi Nasional (BGN) menyebutkan, Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah langkah stategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam mencetak generasi emas. Secara demografi hal tersebut dapat dijelaskan dengan data. Penduduk Indonesia sampai saat ini masih tumbuh sekitar 6 orang per menit atau 3 juta per tahun dan populasi akan mencapai 234 juta pada tahun 2045.

Merujuk data anggota rumah tangga berbasis penghasilan, dapat dilihat bahwa sumber pertumbuhan itu berasal dari keluarga miskin dan rentan miskin, yaitu masing-masing memiliki anggota rumah tangga 4,78 dan 4,34.

Kalau keduanya dirata-ratakan akan memiliki angka 4,56. Angka 4,56 artinya kalau ada 100 keluarga miskin dan rentan miskin, maka 56 keluarga anaknya 3 dan 44 keluarga anaknya 2.

Sekitar 60% anak-anak dari kalangan ini tidak punya akses yang baik terhadap makanan dengan gizi seimbang. Anak-anak mereka juga jarang minum susu karena tidak mampu beli susu. Mereka yang sekarang ada dalam kandungan, mereka yang di TK, SD, sampai SMA termasuk para santri dan sekolah keagamaan lainnya, 20 tahun kemudian di 2045 akan menjadi tenaga kerja produktif.

Penduduk Indonesia sampai saat ini masih tumbuh sekitar 6 orang per menit atau 3 juta per tahun dan populasi akan mencapai 234 juta pada tahun 2045. Jika menyimak data anggota rumah tangga berbasis penghasilan, kita dapat melihat bahwa sumber pertumbuhan itu berasal dari keluarga miskin dan rentan miskin, yaitu masing-masing memiliki anggota rumah tangga 4,78 dan 4,34.

Jadi, pelaksanaan MBG sangat membantu dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari penambahan kerja, kerja sama dengan masyarakat lokal, hingga membantu perekonomian pengusaha serta petani dan nelayan dalam hal pemasok bahan pangan.

Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengenai Hasil Survey Status Gizi Indonesia 2024, angka prevalensi stunting sebesar 19,8%. Terjadi penurunan sebesar 1,7% dari tahun 2023 (21,5%).

Karena itulah mengapa MBG itu perlu dan harus terus dilakukan. Demo-demo penolakan MBG dapat dipastikan hanya akan menimbulkan ketidakbaikan bagi generasi muda, anak-anak yang memang membutuhkan gizi.

Tak heran kalau demo penolakan dibalas pendemo lainnya yang berharap MBG terus dilakukan dan jangan dihentikan. Bahkan nyaring terdengan evaluasi personel yang melaksanakan MBG agar tidak terjadi lagi kekacauan karena kasus-kasus korupsi dan lainnya.

CNBC Indonesia menyebutkan, momen menarik terjadi ketika Presiden Prabowo Subianto menghadiri Puncak Pekan Nasional Petani dan Nelayan XVII 2026 di Gorontalo, Rabu (24/6/2026). Saat memberikan sambutan, sekelompok orang membentangkan spanduk berwarna putih bertuliskan “Lanjutkan MBG”.

Melihat hal tersebut, Prabowo mengungkapkan bahwa ada juga orang yang tidak setuju dengan program MBG.

“Harusnya mereka yang enggak setuju MBG datang ke sini ya. Tanya itu petani nelayan, MBG perlu atau tidak? Tanya anak-anak, MBG perlu atau tidak?,” ujar kepala negara.

“Katanya ada orang-orang pintar yang mengatakan ada lebih genting dari perut lapar. Saya kira enggak ada lebih genting dari perut lapar! Orang perut lapar itu kalau enggak segera diisi ya dia mati!,” lanjutnya.

Dukungan agar MBG diteruskan juga datang dari beberapa kota. Aksi massa digelar di Jakarta, Batam, Medan, Jambi, Yogyakarta, Surabaya, Jember, hingga Lampung.

BBC Indonesia melaporkan, guru, anak-anak, hingga para pegawai dan pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menggelar aksi mendukung Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sejak 10 Juni 2026, rentetan aksi mulai demonstrasi bermunculan. Dari koalisi masyarakat sipil hingga mahasiswa turun ke jalan.

Salah satu tuntutannya mendorong penghentian program MBG yang dianggap melahirkan berbagai persoalan dan menggerus anggaran negara.

MBG Disejumlah Negara

Kementarian Keuangan RI menyebutkan, program pemberian makanan bergizi bagi anak sekolah telah dilaksanakan di sejumlah negara. Bahkan, pada tahun 2022, program ini telah menjangkau hampir 418 juta anak di berbagai penjuru belahan dunia. Pemberian makanan bergizi untuk anak sekolah di Amerika Serikat dikenal dengan National School Lunch Program. Di India, program serupa dikenal dengan The Mid-Day Meal Scheme, sementara di Afrika dikenal dengan Homegrown School Feeding.

Berdasarkan studi World Bank pada tahun 2024, pemberian makan bergizi dapat meningkatkan tingkat kehadiran, tingkat partisipasi, serta mengurangi malnutrisi atau stunting. Di beberapa negara maju, studi menunjukkan bahwa pemberian makan bergizi juga dapat mengendalikan pola makan sehingga mengurangi risiko obesitas dan diabetes sejak dini bagi anak usia sekolah. Di negara-negara Afrika, merujuk pada data United Nations World Food Programme pada 2021, program makan bergizi di sana mampu memperluas kesempatan petani lokal, mendorong ekonomi pedesaan/kerakyatan, memperkuat ketahanan pangan, serta mengurangi rantai pasok dan emisi karbon.

DI Indonesia, program MBG resmi dimulai pada 6 Januari 2025. Implementasinya dilakukan secara bertahap hingga mencakup seluruh jenjang pendidikan, dimulai dari PAUD hingga SMA/sederajat di semua wilayah kabupaten/kota dengan mempertimbangkan kesinambungan fiskal. Dalam pelaksanaannya, bahan makan yang diolah juga menggunakan sumber pangan lokal.

Jurnal IntelekMadani.org menyebutkan, program MBG berpotensi dalam menurunkan angka stunting dan malnutrisi pada anak sekolah, meningkatkan kehadiran siswa di kelas, serta memperbaiki capaian akademik mereka. Selain itu, program ini juga mendorong keterlibatan komunitas dalam mendukung penyediaan pangan bergizi yang berkelanjutan.

Frans S. Pong, Jurnalis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *