June 15, 2026

IBCWE dan BEI Luncurkan Sensus Kepemimpinan Perempuan di Perusahaan IDX200

0
Screenshot (3227)

JAKARTA, EmitenUpdate.com – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) menyelenggarakan peluncuran temuan awal Census on Women in Executive Leadership Team (ELT) in IDX200 Companies (2022–2025) pada hari ini hari ini, Senin (15/6) di Main Hall BEI, Jakarta.

Dengan mengusung tema “From Disclosure to Impact: Advancing Women’s Leadership in IDX200 Companies” acara ini mempertemukan lebih dari 200 pemimpin perusahaan, regulator, dan pembuat kebijakan untuk memaparkan pentingnya kesetaraan gender dalam kepemimpinan korporasi sebagai bagian dari agenda Environmental, Social, and Governance (ESG) yang lebih luas.

Census on Women in ELT in IDX200 Companies merupakan upaya penelitian berbasis data yang menganalisis laporan tahunan dan keberlanjutan dari 200 perusahaan tercatat dengan kapitalisasi pasar tertinggi di BEI selama periode 2022 hingga 2025.

Hasil sensus memberikan gambaran komprehensif tentang kondisi representasi perempuan di level kepemimpinan eksekutif Indonesia. Dalam acara yang diselenggarakan pada hari ini, temuan-temuan utama hasil sensus telah disampaikan dengan harapan adanya peningkatan kesadaran akan pentingnya partisipasi perempuan dalam posisi kepemimpinan di industri keuangan, khususnya pasar modal Indonesia.

Temuan awal dari data sensus mengungkap gambaran yang memerlukan perhatian bersama. Dari total 1.094 anggota Executive Leadership Team (ELT) yang tercatat di IDX200 pada 2025, hanya 164 anggota ELT atau sekitar 15% yang merupakan perempuan. Besaran angka tersebut cenderung serupa dengan anggota ELT pada 2022, dengan keterwakilan perempuan di ELT tercatat sebanyak 159 dari 1.059 anggota ELT.

Adapun pada level tertinggi kepemimpinan, pada 2025 hanya 11 dari IDX200 Companies yang dipimpin oleh CEO perempuan, sama dengan tahun 2022, setelah sempat turun menjadi 10 perusahaan pada 2023 dan 2024. Data tersebut menunjukkan belum adanya pertumbuhan signifikan pada diversitas gender di tingkat kepemimpinan tertinggi dari IDX200 Companies.

Rangkaian acara dibuka dengan sambutan dari para pucuk pimpinan lembaga penyelenggara. Komisaris Utama BEI Nurhaida, dalam sambutannya menegaskan komitmen BEI terhadap agenda kepemimpinan perempuan. “Bursa Efek Indonesia berupaya untuk menjadi role model dalam mendorong praktik-praktik keberlanjutan yang memberikan dampak nyata bagi seluruh ekosistem pasar modal Indonesia. Pelaksanaan sensus ini adalah salah satu bentuk kontribusi nyata kami dalam memperkuat basis data dan meningkatkan transparansi mengenai peran perempuan dalam posisi eksekutif”, ujar Nurhaida.

Senada dengan hal tersebut, Advisory Board IBCWE Andrie Darusman menyampaikan bahwa transparansi adalah kunci utama perubahan. “Melaporkan data gender bukan lagi sekadar pemenuhan kewajiban administratif atau kepatuhan regulasi. Ini harus menjadi sebuah mekanisme akuntabilitas strategis.

Dengan mengintegrasikan indikator gender yang kuat ke dalam pelaporan ESG, perusahaan dapat secara sadar memetakan jalur karier karyawan perempuan, mengidentifikasi hambatan dalam pipeline kepemimpinan, serta menetapkan target dan memonitor dampaknya secara berkelanjutan,” tegas Andrie.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pidato kunci yang disampaikan oleh Minister Counsellor dan Head of Economic and Investment Kedutaan Besar Australia Jonathan Gilbert. Melalui pemaparannya, Gilbert membagikan keberhasilan Australia dalam mendorong kesetaraan gender di tempat kerja melalui instrumen akuntabilitas seperti Workplace Gender Equality Agency (WGEA) dan Chief Executive Women (CEW) Senior Executive Census di ASX300 yang terbukti efektif menghasilkan perubahan sistemik.

Berangkat dari keberhasilan implementasi tersebut, Pemerintah Australia melalui program Investing in Women turut memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan sensus dan acara peluncuran ini.

“Seperti yang sering dikatakan, what gets measured gets managed. Sensus ini menghadirkan gambaran yang kredibel dan transparan tentang posisi kita saat ini — menyoroti kemajuan yang telah dicapai sekaligus kesenjangan yang masih perlu diatasi. Temuan ini memberikan wawasan berharga bagi perusahaan, investor, dan regulator untuk lebih memahami tren yang ada, mengukur kinerja secara komparatif, dan mengidentifikasi area yang masih membutuhkan upaya lebih lanjut” ujar Jonathan.

Memasuki sesi inti, rincian paparan data sensus disampaikan secara mendalam oleh Direktur BOI Research Services Indonesia Dian Irawati. Dalam presentasinya, Dian menguraikan tren, kesenjangan sektoral, serta peluang pengembangan yang teridentifikasi dari analisis data laporan perusahaan IDX200 selama empat tahun terakhir.

“Dari 8 menjadi 11 CEO perempuan dalam empat tahun — angka ini mungkin terlihat seperti sebuah kemajuan. Tapi bagi kami, ini justru mengkhawatirkan. Kita berbicara tentang 200 emiten terbesar di Indonesia, dan hanya bertambah 3 orang dalam empat tahun,” ungkap Dian Irawati.

Setelah pemaparan data tersebut, acara memasuki sesi diskusi panel bertajuk “Beyond Compliance: Elevating Gender Reporting in ESG, Sustainability, and Corporate Disclosures”.

Sesi yang dimoderasi oleh Direktur Eksekutif IBCWE Wita Krisanti ini menghadirkan tiga panelis, yaitu ESG Specialist-Foundation for International Human Rights Reporting Standards/FIHRRST Dr. Unang Mulkhan, Group General Manager of People and Organization PT BUMA International Grup Tbk Kanya Sjahrir, dan Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum BEI Risa E. Rustam.

Diskusi ini menyoroti bagaimana pelaporan gender dapat bertransformasi dari sekadar pemenuhan kepatuhan (compliance) menjadi mekanisme akuntabilitas yang lebih bermakna. Masing-masing panelis membedah urgensi pengungkapan indikator gender dari berbagai sudut pandang ekosistem bisnis.

“ESG score dan ESG index itu kini menjadi market signal yang nyata bagi investor. Perusahaan dengan keberagaman gender yang baik dan pengelolaan aspek sosial yang lebih kuat berpeluang mendapatkan ESG score yang lebih tinggi. Sustainability reporting bukan lagi sekadar laporan — ini adalah report card sekaligus soft marketing tool bagi perusahaan,” jelas Risa E. Rustam.

Dari perspektif standar pelaporan, Dr. Unang Mulkhan menambahkan, “Menurut saya, gender reporting yang baik harus mampu menjawab tiga hal: pertama, bagaimana kondisi representasi perempuan saat ini; kedua, bagaimana proses perusahaan membangun pipeline pemimpin perempuan; dan ketiga, apakah terdapat hambatan struktural yang menyebabkan perempuan gagal mencapai posisi kepemimpinan. Selama tiga pertanyaan ini belum terjawab, pelaporan gender belum benar-benar bermakna.”

Sementara itu, dari sudut pandang praktisi industri dan pengelolaan talenta internal, Kanya Sjahrir menegaskan pentingnya dukungan dari level atas terhadap posisi perempuan dalam manajerial.

“Kalau kita bicara tentang menjaga talent perempuan sepanjang siklus karier mereka, sponsorship adalah jawabannya. Bukan hanya mentoring. Sponsorship datang dari level atas dan membuka pintu yang mungkin tidak akan pernah terbuka sendiri. Di industri yang masih didominasi laki-laki seperti pertambangan, itulah yang benar-benar menggerakkan jarum,” ujarnya.

Sebagai penutup, Wita Krisanti menekankan pentingnya pergeseran paradigma dari sekadar mengisi laporan menjadi aksi nyata yang berdampak di ruang rapat direksi.

“Data kita hari ini menunjukkan bahwa perempuan ada — mereka kompeten, mereka bekerja keras, dan mereka siap. Yang perlu kita pastikan bersama adalah bahwa sistem di sekitar mereka juga siap: pipeline yang terbuka, sponsorship yang aktif, dan pelaporan yang jujur tentang hambatan yang masih ada. Itulah yang akan membawa kita dari sekadar komitmen menuju perubahan yang nyata,” papar Wita.

Salah satu pesan utama dari diskusi hari ini, yaitu pentingnya pengintegrasian indikator gender yang lebih kuat ke dalam penerapan dan disajikan melalui kerangka pelaporan ESG dan keberlanjutan di Indonesia. Saat ini, keterbatasan data terkait gender, inkonsistensi praktik pengungkapan, dan variasi kapasitas internal perusahaan masih menjadi tantangan dalam penyajian informasi.

Pelaporan gender yang baik merupakan instrumen strategis yang memungkinkan perusahaan melacak kemajuan perempuan dalam pipeline kepemimpinan, mengidentifikasi hambatan secara sistemik, menetapkan target yang terukur, dan mempertanggungjawabkan hasilnya kepada investor, serta pemangku kepentingan.

Seiring dengan perkembangan Indonesia yang terus menyelaraskan praktik bisnis dengan standar ESG nasional dan global, termasuk persyaratan standar keberlanjutan dari BEI dan OJK, sensus ini diharapkan dapat memberikan masukan pengembangan kebijakan untuk mendukung penerapan dan penyajian informasi terkait gender equality yang lebih baik.

/Sumber: Bursa Efek Inndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *