Oleh : Dr. Wahyu Lay, Dosen Filsafat

Dalam bahasa inggris habit; dalam bahasa latin habitus (keadaan tampak, pakaian). Bentuk kata kerjanya habere (memiliki, mempunyai).

Beberapa Arti

  1. Tingkah laku, pergaulan, atau kecenderungan, kehendak hati (a) yang diperoleh, didapat karena pergaulan, (b) yang digiatkan atau diungkapkan dengan sedikit atau tanpa pikir-pikir, dan (c) yang dilaksanakan dengan spontan, tanpa banyak rintangan.
  2. Kebiasaan merupakan kecenderungan bertindak dengan cara tertentu. Kebiasaaan dibentuk oleh pergaulan tindakan yang sama secara sadar dan, begitu diperoleh, memudahkan pelaksanaan tindakan-tindakan berikutnya.
  3. Kebiasaan baik disebut kebajikan dan kebiasaan jahat disebut kedurjanaan.
  4. Pembentukan kebiasaan tergantung pada disposisi (kecondongan) yang sudah ada sebelumnya dan kebiasaan yang sudah dicapai menjadikan pekerjaan pelbagai kekuatan jiwa lebih mudah dan lebih sempurna. Keadaan ini dihasilkan oleh interaksi antara lingkungan seseorang dan reaksinya terhadap lingkungan.
  5. Bilamana kebiasaan yang sudah dicapai berkurang karena tidak dimanfaatkan (misalnya berbahasa asing), berkat hasil yang melekat dari kebiasaan yang sudah dikembangkan sebelumnya kebiasaan itu dapat diperoleh kembali secara lebih cepat dan dengan latihan-latihan sedikit saja.
  6. Kebiasaan yang sudah dicapai dapat diperiksa dengan menentukan tindakan-tindakan yang berlawanan dengannya, meskipun kecenderungan asli mungkin tetap.

Untuk mencapai kebiasaan baik, penting sekali pada tahap-tahap awal, tindakan-tindakan yang tepat dan pantas, dijalankan secara cermat dan pasti (misalnya segera setelah anak mulai bicara, penting sekali ucapan yang tepat).

Dan penting sekali pembentukan kompleks-kompleks yang terkait terjadi di dalam konteks pengalaman yang intens.

Peranan Kebiasaan

Pentingnya kebiasaan bagi seluruh kehidupan manusia sulit ditolak. Kali ini dapat dilihat dalam beberapa hal:

  1. Kebiasaan merentang dalam seluruh bidang kehidupan, mulai dari berjalan, berbicara, makan, dan lain sebagainya sampai dengan pelbagai keterampilan teknis yang tepat.
  2. Kebiasaan memainkan peranan penting dalam mengalami nilai-nilai, dalam memola pikiran, dalam mengontrol nafsu-nafsu sendiri, dan sebenarnya, dalam bidang pembentukan watak. Supaya menjadi terbiasa dengan apa yang benar, haruslah dimulai dari masa kanak-kanak. Sebab kalau tidak, kompleks-kompleks dicapai melalui pengaturan diri spontan yang langsung bertentangan dengan pendidikan yang matang dan pengembangan diri kemudian hari. Namun kemudian, kebiasaan baru memperoleh keadaannya yang penuh bilamana kebiasaan itu menjadi lebih dari sekedar latihan eksternal.
  3. Kebiasaan harus secara aktif diambil alih dan dilatih oleh orang yang terlatih (terdidik). Selanjutnya, tujuan ini akan tercapai melalui kompleks motif-motif yang menjadikan manusia mampu bertindak atas kemauannya sendiri tanpa tekanan-tekanan dari luar, bukan hanya sekarang melainkan juga pada masa mendatang.

Karena itu, kebiasan-kebiasaan menyumbang kepada apa yang disebut “memperkuat kehendak”. Kebiasaan-kebiasaan kehendak lebih mudah merangkum kebaikan di dalam seluruh struktur pikiran yang terkait struktur yang dibangun oleh kebiasaan-kebiasaan.

Sebab kebiasaan-kebiasaan yng dipaksakan dari luar dapat kehillangan daya gunanya secara paling cepat. ***

By emiten

Leave a Reply

Your email address will not be published.