JAKARTA, Update – PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) membukukan laba bersih senilai US$ 47 juta di tahun 2021. Sebelumnya, tiga tahun  berturut Medco mencatat rugi bersih sebesar US$ 51,3 juta pada 2018, rugi US$ 27,3 juta pada 2019, dan rugi US$ 192,83 juta pada 2020.

Laman investor.id/corporate menyebutkan, laba bersih US$ 47 juta, seiring dengan pulihnya tingkat permintaan energi yang sebelumnya rendah akibat Covid-19 pada 2020. Ketiga segmen usaha minyak dan gas, ketenagalistrikan dan tambang membukukan laba.

Laba bersih juga dipengaruhi oleh dry hole dan penurunan nilai dari Blok Meksiko 10 dan 12 total sebesar US$ 28 juta, penurunan nilai AMG sebesar US$ 15 juta, diimbangi dengan penyesuaian nilai pada Sarulla sebesar US$ 47 juta dan DSLNG sebesar US$ 25 juta.

“Dengan senang saya laporkan kinerja keuangan yang kuat seriring dengan harga dan permintaan yang pulih pasca Covid. Kinerja perseroan memungkinkan kami untuk memberikan panduan dividen baru dan target hutang yang lebih rendah,” kata CEO Medco Energi Internasional Roberto Lorato Jumat (10/6).

Adapun panduan baru untuk dividen tahunan sebesar Rp 15-20 per saham dan target leverage yang lebih rendah yaitu hutang bersih/EBITDA 2,5x. Pada tahun 2021, MEDC juga mencatatkan EBITDA sebesar US$ 714 juta atau naik 44% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Presiden Direktur Medco Energi Internasional Hilmi Panigoro mengungkapkan, pihaknya senang melihat peningkatan kinerja setahun penuh perseroan yang jauh lebih baik serta dukungan dari para pemangku kepentingan atas perpanjangan PSC Senoro-Toili.

“Penyelesaian akuisisi ConocoPhillips Indonesia pada bulan Maret telah memperkuat posisi MedcoEnergi di Asia Tenggara dan mendukung strategi perubahan iklim kami,” kata ia.

Akhir tahun lalu, MEDC mencatatkan total pendapatan senilai US$ 1,32 miliar atau lebih tinggi dibandingkan perolehan pada 2020 senilai US$ 1,09 miliar. Secara rinci, kontrak penjualan migas menjadi penyumbang penerimaan MEDC terbesar sepanjang 2021 senilai US$ 1,18 miliar. Kemudian kontrak konstruksi menyumbangkan U$ 32,09 juta, disusul oleh kontrak penjualan listrik US$ 25,30 juta.

Selanjutnya, kontrak operasi dan jasa pelayanan mencatatkan penerimaan sebanyak US$ 27,54 juta, kontrak penjualan jasa lainnya US$ 14,30 juta, serta sewa dan pendapatan bunga sebesar US$ 39,92 juta.

Manajemen MEDC memaparkan, harga jual rata-rata minyak senilai US$ 68 per barel atau lebih tinggi 69% dibandingkan tahun 2020 senilai US$ 40 per barel. Harga penjualan rata-rata tertimbang gas adalah US$ 6,5 per mmbtu atau naik 26% dari 2020 senilai US$ 5,2 per mmbtu.

Adapun, jumlah belanja modal atau capex yang terealisasi adalah sebesar US$ 114 juta. Kegiatan belanja modal meningkat di kuartal IV seiring dengan pulihnya permintaan. Lalu hutang konsolidasi sebesar US$ 3,0 miliar dan hutang restricted group  sebesar US$ 2,6 miliar, naik sebesar US$ 294 juta tahun-ke-tahun, termasuk penerbitan obligasi AS sebesar US$ 400 juta untuk akuisisi Corridor pada kuartal I-2022.

Hutang bersih  sebesar US$ 1,8 miliar dan rasio hutang bersih terhadap EBITDA 2,7x.  Biaya keuangan pun lebih rendah 20% dari tahun-ke-tahun sebagai hasil dari penurunan hutang yang konsisten. Sedangkan, di tahun ini, perseroan membagikan panduannya, di mana alokasi capex sebesar US$ 325 juta, terdiri dari belanja modal minyak dan gas US$ 275 juta dan ketenagalistrikan US$ 50 juta. 

Target produksi minyak dan gas 160 mboepd, dengan biaya produksi untuk keduanya dibawah US$ 10/boe. Serta, penjualan ketenagalistrikan 3.500 GWh.***

By emiten

Leave a Reply

Your email address will not be published.