JAKARTA, Update – Hadirnnya model pengajaran menggunakan cara-cara metaverse di dunia pendidikan akan semakin memudahkan proses belajar mengajar baik guru maupun dosen. Yang pasti metaverse bukan untuk menggantikan sistem belajar mengajar yang sudah ada tetapi semakin memperkaya dan memudahkan menerapkan proses belajar mengajar.

Mengatakan hal itu, Prof. Richardus Eko Indrajid, M.Sc., MBA., MA.,M.Phil.,M.Si dalam acara  Webinar Pendidikan yang dimoderarori Dr. Griet Helena Laihad, M.Pd. Pertemuan Nasional yang diselenggarakan Prodi Administrasi Pendidikan Universitas Pakuan Bogor belum lama ini juga menghadirkan narasumber Dr. Yogi Anggraena, M.Si dan Prof. Dr. Hj. Aan Komariah, M.Pd. Peserta yang hadir hampir mencapai 500 orang dari berbagai latar belakang ilmu dari seluruh Indonesia.

Pria yang senang disapa Prof. Eko ini mencontohkan, melalui metaverse bisa melihat gambar jantung yang bisa dianimasikan dan disimulasikan bahkan bisa memahani detil jantung secara keseluruhan tanpa harus melhat jantung yang sebenarnya.

“Ini maksudnya memperkaya dunia Pendidikan, bukan menggantikan,” ungkap alumnus Harvard University bidang studi Applied Computer Science ini. Dalam pengajaran unsur kimia dengan metaverse, juga bisa dilakukan dengan baik dan aman tanpa  harus takut akibat dari reaksi yang ditimbulkan dari sebuah pencampuran kimia, termasuk tidak perlu membeli zat kimia yang diperlukan, karena semua dalam bentuk simulasi.

“Ayo susun strategi agar masa depan bisa datang lebih cepat dari waktunya. Bentuk bahan ajar akan mengalami revolusi besar-besaran,” tutur Prof. Eko menyebutkan bahwa buku akan sangat membosankan, kalaupun nantinya ada buku yang diterbitkan isinya adalah  QRcode saat handphone diarahkan ke QRcode akan memunculkan hologram, belajar menjadi lebih menyenangkan.

Dalam konteks Pendidikan, mengacu pada teori-teori dalam teknologi pendidikan bahwa Metaverse ini ada untuk membantu memfasiitasi proses pembelajaran agar improving performance atau meningkatkan kinerja.

Ada banyak hal yang ditawarkan Metaverse bagi dunia pendidikan. Dari  metaverse diharapkan alam semesta kembali menjadi sekolah yang holistik dan kontekstual. Contohnya dalam belajar tanam-tanaman, dengan adanya metaverse belajar tanaman, belajar planet-planet tidak perlu harus di sekolah.

“Saya lihat tanah kosong, tapi kalau saya lihat dari aplikasi metaverse, disitu akan kelihatan tanah itu jenis apa, bisa ditanami tanaman apa, ada informasi dan ada ceritanya. Belajar bisa dimana saja. Jadi belajar tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu.  Itu secara paedagogi manfaat metaverse dalam dunia Pendidikan,” kata Prof. Eko.

Guru-guru dan dosen, akan sangat terbantukan dengan adanya kemajuan  teknologi metaverse. Aplikasi artificial intelligence bisa menjadi asisten guru dan dosen yang akan membantu menjawab pertanyaan anak didik atau mahasiswa. Jadi, katanya, silakan membuat verse-verse yang diperlukan.

“Bapak ibu berhak mengembangkan verse tersendiri. Intinya adalah filosofinya kita berusaha menghadirkan akses terhadap pendidikan bermutu bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali,” kata sosok yang aktif membantu pemerintah dalam sejumlah penugasan di Lemhannas, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), BNN dan dan Bank Indonesia.

Metaverse, katanya, sudah lama ada sejak sudah 20 tahun lalu. Hanya baru sekarang ramai dibicarakan. Ia mencontohkan permainan anak-anak seperti Minecraft, Roblox dan beberapa lainnya merupakan metaverse saat ini. Sebanyak 50 persen anak-anak di Amerika melakukan permainan tersebut. Dan untuk anak-anak muda atau ibu-ibu muda verse yang dimainkan adalah Mobile Agent.

Hanya bedanya adalah yang namanya Roblox, Minecraft, Freefire, Mobileagent, SIMS, itu masih menggunakan Notebook, Komputer, handphone. Jadi belum terasa seperti nyata seolah-olah berada didalamnya walaupun sudah membuat anak-anak ketagihan.

“Metaverse adalah dunianya Mark Zuckerberg  melalui perusahaannya, Meta. Tetapi kalau menggunakan makna luas Metaverse artinya verse-verse lain yang bisa dibuat siapa saja. Jadi kita bisa bikin Pakuanverse, Nusantaraverse,  Garudaverse.”  

Mark Zuckerberg yang  menciptakan  jejaring sosial facebook yang memvisikan kedepan setelah internet, media sosial Meta yang akan jadi tren. Ia pun membranding semua perusahaannya seperti facebook, Instagram, WhatsApp dengan nama Meta. “Jadi Metaverse ini bukan sesuatu yang baru. Dunia alternatif membuat orang sudah ketagihan didalamnya.” /fsp

By emiten

Leave a Reply

Your email address will not be published.