Oleh:  Dr. Wahyu Lay, Dosen Filsafat, Penulis Ahli EmitenUpdate.com

Mari kita rangkum kembali pengertian paling dalam  dari Aristoteles. Dua pengertian paling penting tentunya adalah bahwa hidup secara moral membuat manusia bahagia, dan bahwa kebahagiaan tidak diperoleh dengan malas-malas hanya ingin menikmati segala hal enak, melainkan dengan secara aktif mengembangkan diri dalam dimensi yang hakiki bagi manusia.

Kadang-kadang para pengkhotbah moralitas lupa bahwa moralitas membuat bahagia, bukan hanya di hidup akhirat, melainkan di dunia ini. Padahal kebahagiaan adalah apa yang kita harapkan, yang merupakan tanda kehidupan yang mencapai keutuhannya. Aristoteles memperlihatkan bahwa kalau kita mau bahagia, maka kita harus hidup secara bermoral.

Jadi, manusia yang betul-betul bahagia- kalaupun kebahagiaaan di dunia ini tak pernah sempurna-adalah manusia yang mantap sebagai sosok etis, manusia yang dapat diandalkan melaksanakan kewajibannya sebagai manusia. Jadi, kewajiban moral bukan sekedar sesuatu yang menekan, melainkan yang membawa ganjarannya sendiri, rasa bahagia yag semakin mendalam.

Salah pengertian yang paling biasa-yang dalam filsafat dinamakan hedonisme-adalah anggapan bahwa kita akan bahagia kalau kita mencari nikmat sebanyak mungkin menghindari perasaan sakit. Sebenarnya kita tahu bahwa anggapan itu sesat. Hal yang paling luhur dan memuaskan tak pernah tercapai tanpa perjuangan, tanpa mengalahkan “manusia rendah” dalam diri kita sendiri yang selalu terhambat karena kita tergoda oleh segala macam janji nikmat. Yang paling luhur hanya dapat tercapai melalui penderitaan.

Aristoteles memperlihatkan, mengapa demikian. Mencari nikmat jasmani dan menghindari perasaan sakit adalah apa yang kita miliki bersama dengan binatang, jadi bukan khas manusia. Berfokus pada kecenderungan alami itu akan menggagalkan kita dalam usaha menjadi manusia utuh. Apalagi, yang betul-betul memuaskan manusia dan mengutuhkannya, bukan nikmat pasif, melainkan usaha aktif.

Manusia adalah makhluk yang harus mewujud-nyatakan potensinya kalau ia mau menjadi nyata. Karena itu, kebahagiaan diperoleh dalam usaha aktif untuk mencapai tujuan luhur dan bukan dalam pasivitas. Kebahagiaan hanya dapat kita cicipi apabila kita aktif berusaha, tidak mengalah terhadap segala macam godaan yang akhirnya hanya memperlemah kita, dan tidak takut berkorban. Adalah jasa Aristoteles bahwa ia memperlihatkan bahwa hidup yang bermakna itu justru membuat bahagia.

Maka, orang yang keras terhadap dirinya sendiri pada umumnya kelihatan lebih tenang, relax, mantap, gembira. Aristoteles juga memperlihatkan ke arah mana kita harus berusaha. Arah itu adalah kemanusiaan kita, perwujudnyataan ciri-ciri yang khas bagi manusia. Ciri itu, menurut Aristoteles, ada dua. Yang pertama adalah logos, roh, bagian Ilahi dalam manusia. Aristoteles sendiri sebetulnya lemah dalam menguraikan dimensi ini karena ia menolak “alam idea” Palto.

Maka, baginya menjadi sulit untuk memberi suatu isi kepada theoria, pemandangan “hal abadi” yang menjadi hasrat para filosof. Tetapi bagi mereka yang percaya Allah dimensi itu justru amat berarti : Itulah dimensi doa, dimensi dimana manusia boleh berkomunikasi dengan Allah. Jelaslah bahwa usaha ini sangat luhur.

Dimensi kedua adalah masyarakat. Aristoteles begitu menekankan ciri sosial manusia. Manusia adalah zoon politikon, makhluk bermasyarakat. Manusia tidak mungkin mencapai kepuasan sendirian. Ia menjadi diri dalam kebersamaan dengan manusia lain, dimana ia baik menerima maupun memberikan.

Hanya dengan melibatkan diri dalam masyarakt-kelurga, kampung, dan komunitas politik-manusia menjadi diri sendiri. Jadi bukan dalam isolasi, bukan dengan sikap konsumen yang hanya mau menikmati apa yang dikerjakan oleh orang lain, melainkan dalam memberi dan menerima, dalam ikut membangun kehidupan bersama.

Sekali lagi, itu bukan hanya kewajiban, itulah jalan ke kebahagiaan. Dengan demikian, Aristoteles memberi tekanan berbeda terhadap hedonisme berbudaya Eoikuros yang menasehati agar manusia menarik diri dari keramaian kehidupan masayarakat apabila ia mau menikmati ketenangan. Salah satu unsur utama ajaran Aristoteles adalah tekanan pada keutamaan. Watak moral seseorang ditentukan oleh keutamaan yang dimilikinya.

Etika modern terlalu berfokus pada masing-masing tindakan moral. Tetapi perbedaan antara orang yang kuat dan lemah dalam sikap moral terletak pada keutamaan. Memiliki keutamaan berarti mantap dengan dirinya sendiri karena ia mantap dalam memilih apa yang betul-betul bernilai daripada apa yang sekedar merangsang. Dan keutamaan dapat kita usahakan.

Dengan tegas bertindak menurut apa yang kita sadari benar, kita menjadi semakin mampu untuk bertindak demikian, kita semakin gampang bertindak etis; dan bertindak etis memberi rasa kuat dan bahagia. Melalui pembiasaan dan tekad kita dapat mewujudkan sosok moral kita.  Jadi, kita sama sekali tidak tergantung dari bakat yang kita warisi dan dari pendidikan lingkungan.

Kita dapat mewujudkan diri sendiri. Dari orang yang lemah, yang mudah emosional dan sulit melawan nafsu dan karena itu merasa lemah, tidak bermutu dan tidak dihargai, kita lama-kelamaan dapat menjadi orang yang mantap, yang dapat dipercaya, yang merasa bermutu, yang tidak lagi sulit, melainkan gampang bertindak dengan jujur, adil, positif, dan terandalkan.

Itu berlaku baik bagi keutamaan intelektual maupun moral. Keutamaan intelektua, dimana yang paling kunci adalah phronesis, kebijaksanaan praktis, dapat kita bangun lewat pengalaman dan kesediaan untuk berfikir dan berefleksi setiap kali kalau kita harus mengambil suatu keputusan. Keutamaan etis kita bangun dengan bertindak etis.

Aristoteles menjamin bahwa makin kita berusaha, makin kita akan maju, artinya kita makin gampang bertindak sesuai dengan apa yang kita nilai benar. Kita dapat mewujudkan kita menjadi sosok etis. ***

By emiten

Leave a Reply

Your email address will not be published.