JAKARTA, Update – Kemiskinan bisa identik dengan ketiadaan rumah, maksudnya tidak memiliki rumah. Atau mungkin sebelumnya punya rumah lalu dijual karena kebutuhan terdesak di masa pandemi.

Artinya, jumlah orang miskin bisa saja bertambah di masa pandemi ini, karena desakan ekonomi. Yang dulunya punya pekerjaan sekarang tidak lagi karena pemutusan hubungan kerja (PHK) atau yang dulunya punya warung tapi karena kondisi ekonomi akibat pendemi yang menurunkan daya beli, warung pun tutup.

Masih tingginya angka kemiskinan di Indonesia cukup menjadi perhatian pemangku Negara, dalam hal ini Pemerintah. Tak heran kalau berbagai cara terus dilakukan apalagi di masa-masa pandemi ini yang semakin meningkatkan jumlah orang masuk dalam taraf kemiskinan. Data BPS Maret 2021 melaporkan sebanyak 27,54 juta penduduk Indonesia berstatus miskin.

Kata orang bijak, “Selalu Ada Peluang Di Balik Musibah, Selalu Ada Terang Di Balik Gelap” artinya selalu ada yang bisa dirancang atau digarap dibalik “derita” pandemi ini. Kemiskinan bukan semata musibah tapi bisa menjadi berkah. Kemiskinan bisa menjadi batu loncatan negara memakmurkan bangsanya. Caranya, menyentuh langsung pada titik masalah dan merumuskan solusi.

Perbankan dalam hal ini harus bisa tampil didepan membawa “Suluh Penerang” bagi kaum miskin.  Dari urusan pembinaan kepada nasabah, menentukan prospek bisnis hingga menyalurkan pinjaman dalam hal ini kredit harus maksimal dilakukan perbankan pada umumnya. Mengapa? Karena perbankanlah yang dapat dipastikan lebih mengetahui seluk-seluk bisnis apa yang bisa dikembangkan dan pada akhirnya bisa bertumbuh.

PT Bank Tabungan Negara Tbk (Persero) yang lebih dikenal dengan sebutan Bank BTN  dapat dikatakan paling mumpuni untuk bisa menggarap keterpurukan yang ada. Kemiskinan yang tinggi ini harus dijawab dengan memberikan solusi.

Kemiskinan dan kebutuhan rumah  harus dilihat sebagai peluang usaha, bukan beban lalu membiarkannya yang pada akhirnya hanya semakin membebani negara karena ketiadaan kemampuan untuk bisa survive, keluar dari kemiskinan termasuk memiliki rumah tinggal. Jumlah penduduk miskin sebanyak 27,54 juta penduduk dapat dikatakan potensial gain yang bisa diperoleh Bank BTN dengan model pengadaan rumah melalui kredit murah termasuk menyalurkan pinjaman untuk bidang usaha kecil seperti UKM atau UMKM.

Sekali mendayung dua, tiga pulau terlampaui. Sekali mengguyur kredit bisa berlipat keuntungan yang diraih Bank BTN. Warga masyarakat terbebas dari kemiskinan, UKM dan UMKM berjalan, kocek laba pun masuk. Pengalaman Bank BTN tidak diragukan lagi dalam hal penyaluran kredit kepada masyarakat lemah atau yang berpenghasilan minim.  Untuk urusan ini Bank BTN jagonya.

Bank yang listing di Bursa Efek Indonesia dengan kode dagang BBTN sangat-sangat mendukung untuk meminimalisir kemiskinan. Bank ini sudah melakukan kerja sama dengan Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) dalam hal penyediaan hunian layak huni bagi sekitar 9,1 juta masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Indonesia. Wow…

Bank BTN dapat dikatakan “terjun bebas” melawat warga masyarakat yang membutuhkan rumah dengan fasilitas ringan termasuk memberikan Kredit  Pemilikan Rumah (KPR) Bersubsidi. KPR subsidi BTN merupakan bagian program untuk pemilikan rumah dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Republik Indonesia.

Kerja cerdas Bank BTN dan PUPR bisa meluncurkan program rumah KPR subsidi ditujukan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dengan suku bunga rendah dan cicilan ringan dengan suku bunga 5 persen fixed sepanjang jangka waktu kredit. Adapun biaya provisi KPR subsidi BTN adalah 0,5 persen dan biaya administrasi yang dikenakan yaitu Rp 250.000 untuk setiap pengajuan KPR subsidi 2021. Bank BTN gitu…Lho….

Tak sampai disitu saja, manuver bank BUMN ini menjangkau si Amat, si Ujang dan si Butet yang membutuhkan rumah terus dilakukan. Akhir tahun 2021, Bank BTN menggelontorkan penyaluran kredit yang tidak tanggung-tanggung buat milenial dengan meluncurkan fitur Graduated Payment Mortgage dalam produk KPR BTN Gaess for Millenial.

Fitur merupakan salah satu solusi untuk milenial dalam mendapatkan pembayaran angsuran di beberapa tahun pertama yang lebih ringan, misalkan saja jika milenials membeli rumah dengan uang muka 5% dari harga rumah Rp500 juta, maka angsuran awal dengan fitur GPM hanya mencicil Rp2,8 juta per bulan, jika tanpa fitur GPM harus membayar Rp3,1 juta.

Kepedulian yang dalam karena kondisi sosial masyarakat Indonesia terutama kemiskinan terus menjadi perhatian Bank BTN. Karenanya bank ini  telah menyalurkan dana subsidi bunga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan kredit pemilikan rumah (KPR) senilai Rp2,49 triliun kepada 1,15 juta debitur per 31 Maret 2021.

Untuk apa dana sebanyak itu? Lagi-lagi karena kepedulian bank pemerintah ini dalam rangka program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Hasilnya, jutaan debitur bisa mendapatkan fasilitas program subsidi bunga itu. Tidak sampai disitu saja, selain pemberian subsidi bunga, Bank BTN juga telah menyalurkan kredit dari penempatan dana PEN dan penjaminan kredit UMKM.

Membawa terang bagi sesama terus dilakukan Bank BTN. Konsisten berbagi dan bertanggung jawab menjadi bagian rutin dilakukan bank ini. Dana-dana Corporate Social Responsibility (CSR) Bank BTN penyalurannya selalu tepat sasaran.  Di era kenormalan baru di saat pandemi Covid-19 perseroan membaginya ke dalam empat fokus utama.

Apa saja fokus itu? Fokus itu pada bidang kesehatan, fokus terkait sarana dan prasarana di perumahan subsidi, fokus mendukung inklusi keuangan, dan fokus terhadap pengembangan developer muda.

Dengan empat fokus ini diharapkan perseroan dapat lebih optimal dalam turut serta memberikan kontribusi kepada seluruh masyarakat sebagai tanggung jawab sosial dan di lingkungannya, karena itulah Bank BTN bisa menjadi salah satu finalis dan terpilih untuk mengikuti proses penjurian TOP CSR Awards 2021.  Dan dapat dipastikan melalui bantuan CSR ini, perseroan kembali bisa mendapatkan keuntungan.

Selalu ada peluang di balik musibah, selalu ada terang di balik gelap. Bukankan kata orang bijak juga “Terlebih berkat memberi daripada menerima”. Kinerja Bank BTN bisa kinclong dapat dipastkan karena banyak memberi dalam artian menyalurkan kredit, semakain banyak yang disalurkan, bukankah hasilnya semakin banyak yang dituai.

Ini dia hasil yang sudah dicapai Bank Negara ini? Pertumbuhan kreditnya  35 persen pada kuartal III/2021.  Pertumbuhan laba bersihnya sebesar 35,32 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp1,52 triliun. Wow….

Kedepan Bank BTN dapat dipastikan akan  semakin moncer. Ini resepnya, terus fokus pada permasalahan kaum papa, kaum miskin, kaum yang perlu dibantu.

/Frans S. Pong/EmitenUpdate

By emiten

Leave a Reply

Your email address will not be published.