Jakarta, EmitenUpdate.com – Pemerintah meraup Rp 34 triliun dari pelaksanaan lelang tujuh seri surat utang negara (SUN) pada Selasa (8/6). Nominal tersebut melewati target indikatif Rp 30 triliun.

Direktur Surat Utang Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Deni Ridwan menyampaikan, penguatan permintaan SUN di pasar perdana masih berlanjut pada lelang hari ini. “Perkembangan itu didukung oleh kondisi pasar global dan domestik,” kata Deni dikutip Katadata.co.id, hari ini.

Kecenderungan penurunan imbal hasil alias yield obligasi Amerika Serikat dan penguatan nilai tukar rupiah menjadi sentimen positif yang memengaruhi penawaran pada lelang kali ini. Dia menilai investor tertarik karena kondisi likuiditas perbankan domestik yang masih sangat berlimpah dan penurunan premi risiko investasi (credit default swap/CDS) lima tahun dibandingkan dengan level lelang sebelumnya.

Total penawaran lelang tujuh seri tersebut yakni mencapai Rp 78,46 triliun. “Jumlah ini meningkat dibandingkan penawaran pada lelang SUN sebelumnya yang sebesar Rp 78,16 triliun,” ujarnya.

Adapun partisipasi investor asing meningkat signifikan pada lelang hari ini, mencapai 19,13% apabila dibandingkan dengan lelang SUN sebelumnya yang sebesar 14,89% dari total penawaran masuk. Menurut dia, fokus penawaran investor asing berada pada tenor lima dan 10 tahun, yang mencakup 88,6% dari total partisipasi asing pada lelang ini.

Hal tersebut, sambung dia, juga sejalan dengan preferensi dari investor domestik. Dengan demikian, proporsi penawaran dari seluruh investor pada tenor lima dan 10 tahun mencapai 69,04% dari total penawaran di lelang SUN hari ini.

Secara umum, Deni menilai bahwa terdapat penurunan yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan (weigthed average yield/WAY) obligasi negara sebesar 2-9 basis poin dibandingkan lelang sebelumnya. Penurunan WAY tertinggi berada pada SUN dengan tenor lima tahun dengan penawaran masuk yang cukup tinggi sebesar Rp 20,42 triliun.

Pertimbangan pemerintah memenangkan permintaan Rp 34 triliun terkait rencana kebutuhan pembiayaan 2021. Selain itu, yield surat berharga negara (SBN) yang wajar di pasar sekunder, serta pemenuhan suplai SUN dari pasar perdana. “Dengan jumlah SUN yang dimenangkan tersebut, pemerintah tidak memerlukan penyelenggaraan lelang SUN tambahan,” katanya.

Sebelumnya, Wealth Management Head Bank OCBC NISP Juky Mariska menyampaikan, prospek pasar obligasi Indonesia masih akan menarik dengan imbal hasil riil alias real yield yang cukup tinggi. Kondisi tersebut diharapkan mampu mendorong kembali masuknya arus modal asing ke SUN. /***

By emiten

Leave a Reply

Your email address will not be published.