February 6, 2026

Mengenal Eddy Ardian, Dari Proyek Smelter hingga Beras Muhammadiyah

0
Screenshot (2612)

Harapan saya, menjadi kerinduan saya adalah membangun sebuah masjid. Dan bila tiba saatnya Allah memanggil, kita bisa bahagia, mati tersenyum.

JAKARTA, Update – Tak ada kata menyerah baginya dalam menapaki hidup. Selalu ada semangat dalam diri walau terkadang ada keluh kesah karena ada aral begitu besar yang  harus dilalui. Sukses masa lalu baginya adalah pecut semangat menata diri.

Walau kini ia sangat merasakan ketertinggalan itu. Tapi cercah cahaya begitu terang dan menguat untuk digapai. Ia adalah Eddy Ardian, lelaki yang pernah menjabat Direktur Frame Buana Mandiri.

Bersama koleganya pengusaha Hence Carlos Kaparang, Eddy Ardian terus menjalin komunikasi.

Lobi-lobi baginya bukan hal yang susah. Tak heran kalau ia punya hubungan yang baik dengan orang-orang yang punya jaringan bisnis handal di negeri ini.

Eddy cukup dekat dengan Hence Carlos Kaparang, pengusaha yang punya akses baik dengan pihak keluarga besar ex. Presiden Indonesia, Jenderal Soeharto.  Bersama Carlos, Eddy pernah meraancang bisnis menggiurkan, yakni Smelter untuk PT Freeport Indonesia dan sudah ada kesepakatan untuk mengerjakan smelter tersebut.

Yang pasti bersama koleganya, Hence Carlos Kaparang ada sinyal-sinyal kebangkitan bisnis yang bakal diraih. Eddy bergerak terus meyakinkan founder untuk berani melakukan pembiayaan terhadap bisnis smelter untuk Freeport.

“Saya berharap kedepan ada pihak yanag mau bekerja sama. Besaran dana siap masuk yakni 2,3 miliar dolar AS kalau dirupiahkan mencapai triliunan,” ungkap Eddy kepada Frans S. Pong Redaktur EmitenUpdate.com.

Penandatanganan MoU berbagai proyek yang pernah dilakukan Eddy Ardian Direktur Markekting PT Frame Buana Mandiri
Eddy Ardian Direktur Markekting PT Frame Buana Mandiri bersama Prof. Suyatno Bendahara PP Muhammadiyah

Menurut Eddy, China Enfi menunjuk PT Rasamala Metaliurgy Indonesia (PT RMI) sebagai mitra di Indonesia telah mempercayakan untuk mengerjakan proyek tersebut yang dimotori oleh Hence Carlos Kaparang, Direktur RMI. Pembangunan smelter rencana awal akan dibangun di daerah Fakfak provinsi Papua Barat.

Sebagaimana dikatahui pada 2021 lalu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menggelar Memorandum of Understanding (MoU) dengan China ENFI Engineering Corporation (ENFI) terkait proyek peleburan tembaga.

Produk beras PP Muhammadiayah merek BerasMu yang dipasarkan.

BKPM dan ENFI bekerja sama untuk rencana investasi industri smelter tembaga di Fakfak, Papua Barat, yang juga melibatkan dua mitra strategis, PT Freeport Indonesia dan PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID).

Acara penandatanganan yang digelar secara daring dihadiri oleh Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dan President ENFI Liu Cheng, Menteri ESDM Arifin Tasrif, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas, serta Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak.

ENFI merupakan perusahaan milik China yang berkantor pusat di Beijing, Republik Rakyat China, yang bergerak di bidang penyediaan teknologi smelter, pembangunan industri smelter, khususnya tembaga, nikel, alumunium, dan logam non-besi. ENFI telah menunjuk PT Rasamala Metallurgy Indonesia (RMI) selaku liaison atau perwakilan di Indonesia.

Menurut Carlos, ENFI akan menggelontorkan investasi sebesar 2,3 miliar dolar AS dalam dua tahap, untuk pembangunan smelter tersebut.

Yang pasti, mitranya Hence Carlos Kaparang, bukan orang sembarang, carlos punya kedekatan yang baik dengan Direktur Utama Freeport Indonesia, Tony Wenas.

Manuver Eddy memang tak diragukan. Bukti konkrit dari apa yang dibuatnya selalu memberikan hasil nyata. Inilah yang sangat dimiliki oleh sesorang Eddy Ardian dalam menjalankan usahanya. Pengalaman lobi-lobi saat menjabat sebagai Sekretaris Pribadi anggota DPR fraksi Golkar mendidiknya menjadi sosok yang luwes tapi juga  lugas dalam bermasyarakat.

Gairah bisnisnya cukup kuat, tapi juga kekerabatan sosialnya cukup baik dan berempati. Itu terlihat ide yang digulirkan kepada pihak Pengurus Pusat Muhammadiyah. Eddy mencetuskan proyek bisnis beras yang cukup memberikan hasil yang luar biasa.

Eddy berhasil mendekati Prof. Suyatno Bendahara PP Muhammadiyah kala itu untuk merancang proyek beras yang dinamakan ”BerasMU”. Alhasil, dari lobi-lobi yang dilakukan penandatanganan pun diwujudkan dalam bentuk kontrak pengadaan beras antara Muhammadiyah dan PT Frame Buana Mandiri dimana Eddy Ardian selaku Direktur Marketing.

Objek kerja sama tersebut menyangkut spesifikasi beras Premium dengan kadar air 14% – 14,5%, Butir Patah 5% – 8%, Derajat Sosoh 98% – 100%, Kemasan 50 Kg.

“Start awal 50 ribu ton dari total quota 50 juta ton beras,” ungkap Eddy seraya menyebutkan pabrik beras berada di Indramayu yang saat itu telah dilakukan peninjauan.

Ketulusan hatinya, dimasa tuanya adalah bagaimana bisa selalu move on berbagi kebaikan bagi sesama dan keluarga. “Harapan saya, menjadi kerinduan saya adalah membangun sebuah masjid. Dan bila tiba saatnya Allah memanggil, kita bisa bahagia, mati tersenyum,” tutur Eddy mengakhiri pembicaraan.

Frans S. Pong. Redaktur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *