January 29, 2026

….Kita Sesungguhnya Sedang Membuat Tuhan Bukan Lagi Tuhan

0
81315707_10206228238340800_4658086379782144000_n

Pdt. Domidoyo Ratupenu, Pendeta GPIB

Narasi dalam kitab Habakuk 1:2-4 merupakan jeritan nabi Habakuk kepada Tuhan. Dia menjerit “penindasan”, tapi Tuhan membiarkan. Tuhan seolah tuli, tidak (mau) mendengar jeritan Habakuk.

Tuhan seolah membiarkan ketidakadilan dialami oleh Israel. Malah pada ayat yang lain Tuhan malah menjawab bahwa orang Kasdim sengaja dibiarkan Tuhan untuk menghukum Israel, toh nantinya juga Tuhan sendiri akan menghukum orang-orang Kasdim.

Dengan begitu, Habakuk melihat Tuhan itu plin-plan, tega dengan sengaja membiarkan penindasan terjadi pada Israel. Di mana keadilan Tuhan yang selama ini dilihat dan dirasakan Habakuk dan Israel. Sekarang Tuhan tidak lagi bisa dipercaya, demikian barangkali pikiran Habakuk dan Israel.

Perasaan yang dirasakan oleh Habakuk barangkali juga dirasakan oleh kita. Ketika tidak ada kejahatan yang kita lakukan justru malapetaka menimpa kita.

Ketika kita jujur justru malah kemalangan menimpa kita. Kita lalu membandingkan dengan orang lain yang di mata kita malah jahat, korup, dan suka menghancurkan orang lain, justru hidup mereka mewah, berkelebihan, dan malah disanjung dan dipuji orang. Ini tidak adil! Demikian barangkali yang ada di dalam pikiran kita.

Narasi Habakuk ini sesungguhnya hendak menceritakan bahwa Tuhan itu penuh misteri, sulit dipahami, dan bahkan kadang bertentangan dengan harapan dan imajinasi kita tentang “apa itu keadilan Tuhan”.

Justru dengan begitu, kitab Habakuk sesungguhnya hendak berpesan bahwa Tuhan memang penuh misteri dan karena itu sulit dipahami. Dengan membiarkan seperti itu maka sesungguhnya kita sedang membiarkan Tuhan menjadi Tuhan.

Tuhan tidak bisa digiring oleh keinginan, kehendak, harapan, dan imajinasi kita tentang Tuhan. Ketika kita mengungkung Tuhan seturut dengan kemauan kita, maka kita sesungguhnya sedang membuat Tuhan bukan lagi Tuhan. Biarkanlah Tuhan melakukan apa yang Tuhan sendiri mau lakukan pada kita.

Sebagai umat-Nya kita hanya bisa menerimanya dengan sikap terbuka dan rasa syukur, bahwa Tuhan pasti sedang melakukan yang terbaik buat kita, hanya saja pada saat ini kita belum mengerti apa sesungguhnya yang sedang dilakukan Tuhan buat kebaikan kita.

Memang terkesan fatalis, namun sesungguhnya kita sedang membiarkan Tuhan menjadi Tuhan atas hidup kita, bukan kita yang menentukan apa yang harus Tuhan lakukan buat kita. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *