January 27, 2026

O. E. Ch. Wuwungan, Ia Sering Disapa Sebagai Aset….

0
Screenshot (2547)

JAKARTA, Update – Mengenang apa yang pernah dibuatnya dalam giat layannya sangat mengagumkan. Tak heran kalau kepergiannya Gereja pada umumnya sangat merasakan kehilangan orang hebat, terkhusus Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB).

Koleganya, sesama pendeta sering mengungkapkan Pendeta O. E. Ch. Wuwungan adalah aset GPIB, aset gereja pada umumnya. Kemampuan Bahasa yang dimiliki sangat mumpuni. Bahasa Inggris, Bahasa Belanda sangat dikuasainya yang memungkin baginya selalu melayani di jemaat-jemaat yang membuka pelayanan dalam Bahasa-bahasa tersebut.

Penguasaannya terhadap Perjanjian Lama sangat membantunya ketika harus memberikan pembinaan-pembinaan termasuk pembekalan kepada Majelis Jemaat.

Mantan Ketua Umum GPIB ini telah dimuliakan Allah, Tuhannya. Pendeta O. E. Ch. Wuwungan, D.Th wafat pada pukul 01.11 wib dini hari 27/01/2026 di RS PGI Primaya Cikini.

Duka sangat dirasakan terkhusus keluarga yang ditinggal dan gereja pada umumnya. Jenazah pun disemayamkan di Wisma GPIB Jakarta dan dilepas untuk  dimakamkan dari Immanuel Jakarta.

Dalam  suatu kesempatan Wuwungan dalam khotbahnya dalam bahasa Belanda mengatakan, manusia tidak bisa keluar dari takdir yang telah ditetapkan dalam Alkitab, yaitu berada dalam masa penantian Tuhan Yesus datang ke bumi.

Karena itu, katanya, umat Tuhan harus menyiapkan diri selama masa adven, atau masa penantian kedatangan kembali Yesus di akhir zaman.

Dedikasi Pelayanan

Pendeta Wuwungan adalah tokoh yang dikenal karena dedikasinya dalam penerjemahan Alkitab. Situs Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menyebutkan, ia rela menunda studi lanjut ke luar negeri selama belasan tahun demi tugas penerjemahan.

Dedikasi Pelayanannya sangat dikenal sebagai salah satu tokoh yang berkontribusi signifikan dalam pekerjaan penerjemahan Alkitab di LAI. Ia juga satu-satunya anggota Tim Terjemahan (TB 1974).

Pria kelahiran tahun 1934, sejak kecil sudah diharapkan neneknya untuk menjadi pendeta. Setelah sekian lama berkarya di Gereja hingga memasuki masa emiritus ia diturutsertakan dalam pembaruan Alkitab TB.

LAI melalui Sekum Drs.Supardan M.A  dan Konsultan Penerjemahan, Pendeta Anwar Tjen, Ph.D, memintanya untuk bergabung dalam Tim Pembaruan Alkitab Terjemahan Baru. Karya yang dihasilkan timnya pada tahun 1974.

Hasil revisi diharapkan lebih jelas dan tepat bahasanya, sehingga mudah dimengerti. Dalam cetakan Alkitab tidak tercantum nama anggota Tim Revisi sehingga tidak banyak orang yang tertarik dengan usaha ini, apalagi kalau bertahun-tahun harus menelaah naskah.

Revisi Alkitab Terjemahan Baru, menurut dia, memiliki arti yang penting, terutama untuk generasi penerus. Ia berharap Alkitab hasil revisi ini nantinya lebih mudah dibaca dan dipahami.

Ia juga berharap Alkitab yang baru ini menggugah dan meresap dalam hati dan pikiran pembacanya serta membuat orang menjadi percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Selamat Jalan Pak Pendeta, karyamu adalah bukti giat layanmu.

Frans S. Pong.
Redaktur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *