Prospek Properti Menjanjikan, Rawan Bencana, Harus Selektif Pilih Lokasi

Tim Penanggulangan Bencana GPIB melakukan pelatihan mitigasi jika saja terjadi bencana alam.
JAKARTA, Update – Indonesia yang berada di jalur “Ring of Fire” menghadirkan tantangan serius bagi industri properti. Menurut pengamat, gempa bumi, longsor, banjir, dan letusan gunung berapi bukan hanya ancaman bagi masyarakat, namun juga menjadi tantangan serius bagi industri properti.
Laman kontan.co.id seperti disampaikan Ketua Umum The Housing Urban Development (HUD) Institute, Zulfi Syarif Koto mengatakan, meski prospek properti tetap menjanjikan lantaran kebutuhan hunian selalu ada, dia mengingatkan pengembang untuk lebih selektif memilih lokasi pembangunan.
“Bencana sangat mengganggu industri properti. Pengembang harus lebih selektif memilih lokasi dan mempertimbangkan risiko bencana,” kata Zulfi, Kamis (11/12/2025).
Sejumlah contoh bencana yang terjadi baru-baru ini, mulai dari Sumatera hingga Jawa, kata Zulfi, menunjukkan dampak ekonomi yang cukup besar. Sejumlah kasus juga menunjukkan properti di lokasi tertentu yang hancur dihantam bencana longsor.
Menurut Zulfi, bencana alam tak hanya merusak rumah, namun juga memengaruhi daya beli masyarakat sebab banyak korban bencana kehilangan modal usaha dan penghasilan, sehingga kemampuan mereka membeli rumah atau membayar cicilan menjadi menurun. Padahal, kondisi daya beli masyarakat sebelumnya juga masih lesu.
Untuk mengatasi itu, Zulfi menekankan pentingnya pembangunan hunian vertikal di kota-kota besar sebagai solusi lahan yang berkualitas sekaligus menjawab salah satu tantangan utama perkembangan industri properti, yakni keterbatasan lahan.
Namun, strategi ini harus dibarengi dengan pemahaman manajemen kebencanaan. “Indonesia rawan bencana. Pengembang harus memahami ilmu kebencanaan atau disaster management,” ujarnya.
Selain pengembang, pemerintah, kata Zulfi, punya peran krusial untuk memastikan industri properti aman dan berkelanjutan. ***
