January 16, 2026

Persaingan Tesla dan China, Bisa Jadi Karena Ini Jokowi Terus Digoyang…

0
Screenshot (2327)

JAKARTA, Update –Ternyata Indonesia menempapti posisi pertama penghasil nikel terbesar dunia berdasarkan data tahun 2024 dari Meta AI. Adapun  5 negara penghasil nikel terbesar di dunia tersebut adalah sebagai berikut:

  • Indonesia: 2,2 juta metrik ton
  • Filipina: 330 ribu metrik ton
  • Rusia: 210 ribu metrik ton
  • Kanada: 190 ribu metrik ton
  • China: 120 ribu metrik ton

Indonesia memiliki cadangan nikel yang melimpah, terutama di wilayah timur, seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara. Nikel merupakan komoditas strategis yang digunakan dalam industri baja antikarat, baterai, dan lain-lain.

Lanjut data Meta AI menyebutkan, saat ini baterai kapasitas besar yang banyak di produksi adalah Baterai NCA, baterai ini lebih murah biaya produksinya dari Li-Ion.

Baterai NCA (Nickel Cobalt Aluminium) memiliki kandungan lithium sekitar 2-3% dari total berat baterai. Komposisi kimia baterai NCA adalah:

– Lithium (Li): 2-3%

– Nikel (Ni): 80%

– Kobalt (Co): 15%

– Aluminium (Al): 5%

Jadi, lithium hanya merupakan komponen kecil dalam baterai NCA, tetapi sangat penting untuk fungsi baterai.

Indonesia juga memiliki tambang kobalt, dan bahkan menjadi produsen kobalt terbesar kedua di dunia setelah Republik Demokratik Kongo. Kobalt di Indonesia biasanya ditemukan sebagai mineral ikutan dari pengolahan bijih nikel limonit, terutama di Sulawesi Tenggara, seperti di Kolaka dan Konawe.

“Jika ini benar tahulah kita mengapa mantan Presiden Jokowi ngotot melarang ekspor bijih nikel dan kobalt. Bayangkan bagaimana pusingnya negara-negara industri di Eropa dan Amerika dengan adanya larangan ekspor ini.”

Mungkin, kata dia, inilah penyebab mengapa Jokowi digoyang terus dan pembenci-pembenci Jokowi dinegeri ini tidak tertutup kemungkinan adalah agen-agen luar negeri.

Jokowi dipersepsikan korupsi dan pembohong. Tujuannya menggiring opini dan termasuk mempengaruhi Prabowo agar tidak percaya lagi kepada Jokowi sehingga Prabowo membebaskan ekspor lagi seperti dulu.

“Dan bisa juga agar Presiden Prabowo tidak terpilih lagi di 2029. Dengan melimpahnya nikel di Indonesia sebenarnya kita tidak perlu membuat mobil listrik cukup dengan membuat baterai saja untuk kebutuhan mobil listrik dunia Indonesia sudah makmur. Sekarang tahu ‘kan siapa Jokowi itu.”

Catatan EmitenUpdate.com, persaingan merebut pasar nikel di Indonesia sangat dirasakan ketika pemilik produsen mobil Tesla, Elon Musk gagal melakukan investasi di Indonesia dan ternyata China yang diperkenankan masuk oleh Jokowi untuk melakukan investasi. “Jokowi tampaknya welcome ke China, dan Tesla gigit jari.”

Investasi BYD di Indonesia sangat signifikan, dengan rencana pembangunan pabrik mobil listrik senilai sekitar US$1 miliar (Rp16 triliun) di Subang Smartpolitan, Jawa Barat, untuk kapasitas 150.000 unit/tahun, mulai produksi 2026, memanfaatkan nikel Indonesia, mendorong ekonomi lokal, menciptakan ribuan lapangan kerja, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat ekspor EV di ASEAN.

Investasi tersebut sejalan dengan insentif pemerintah untuk membangun ekosistem EV domestik, menjadikan BYD salah satu pemain utama di pasar otomotif Indonesia dan regional. 

Frans S. Pong, Redaktur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *