“Kita Tidak Dapat Hidup Sendiri, Kita Tidak Bisa Hidup Tanpa Orang Lain”

Pendeta Domidoyo Ratupenu, Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GPIB Pniel Surabaya.
SURABAYA, Update – “Kita tidak dapat hidup sendiri. Kita tidak bisa hidup tanpa orang lain, karena itu syukurilah bahwa kita bisa hidup dalam kebersamaan dengan orang lain.”
Demikian pernyataan Pendeta Domidoyo Ratupenu, Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GPIB Pniel Surabaya kepada Frans S. Pong, Redaktur EmitenUpdate.com, Minggu (12/10/2025).
”Jika kita sadar dan menyukuri arti orang lain dalam hidup kita, maka kita tidak akan sedikit pun meremehkan orang lain, karena sekecil apapun orang lain, pasti berkontribusi pada hidup kita, baik langsung maupun tidak langsung.”
Mengambil jarak dari kebersamaan pada dasarnya tidaklah mungkin, kalaupun mau dipaksakan maka hasilnya adalah menyusahkan diri sendiri. Secara teologis umat Tuhan selalu ada dalam persekutuan yang mempermuliakan Tuhan.
Penulis kitab Pengkhotbah pada pasal 4:9 mengingatkan kita bahwa adalah lebih baik berdua dari pada sendiri. Artinya, lebih baik hidup bersama orang lain, ketimbang sendirian, karena pada dasarnya manusia tidak bisa hidup sendiri.
Dalam bahasa sosiologi-budaya bahwa sesungguhnya manusia ada makhluk sosial yang jati dirinya adalah hidup dalam satu sistem sosial dalam kebersamaan. Penekanannya ada dalam persekutuan yang mempermuliakan Tuhan. Persekutuan mengindikasikan adanya kebersamaan, yang di dalamnya masing-masing orang terikat antara satu dengan lainnya, yang masing-masing itu tidak bisa hidup tanpa yang lainnya.
”Jika kita melihat lebih tenang pada baju yang kita pakai misalnya, apakah kita bisa memakai baju yang sedang kita pakai tanpa bantuan orang lain?”
”Bukankah ada begitu banyak orang yang berpartisipasi sampai akhirnya baju bisa kita pakai? Ada petani kapas, ada pemetik kapas. Jika kapas kita bawa dengan memakai bakul, maka ada pembuat bakul di situ.”
”Jika kita mengangkut kapas memakai kendaraan, maka ada ahli mesin, ahli teknologi, pembuat pabrik, buruh pabrik, pembuat mobil, pembuat ban mobil, teknologi pembuat ban, dan seterusnya. Ada begitu banyak orang yang ikut berpartisipasi pada baju yang kita pakai. Dari buruh sampai pakar teknologi.” /fsp
