Kemilau Emas, Investasi atau Tidak….

BEIJING, Update – Fenomena “demam emas” yang tengah melanda China justru berujung pada skandal besar bernilai miliaran dollar AS.
Platform perdagangan logam mulia, JWR, dilaporkan mengalami krisis likuiditas parah di tengah lonjakan harga emas global, yang mengakibatkan puluhan ribu nasabah terancam kehilangan dana mereka. Ambruknya platform besar ini mengguncang Kota Shenzhen, wilayah selatan China.
Laman KOMPAS.COM berdasarkan laporan media domestik dan keluhan para investor, total kerugian diperkirakan mencapai lebih dari 1,4 miliar dollar AS atau setara Rp 23,4 triliun.
Kronologi Skandal Penipuan Investasi Emas
Dikutip dari SCMP, para investor ritel di China sebelumnya berbondong-bondong memanfaatkan momentum kenaikan harga emas yang menyentuh rekor tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Hal ini memicu gelombang penempatan dana besar-besaran pada platform daring JWR. Namun, saat harga emas terus meroket dalam beberapa pekan terakhir, terjadi penarikan dana (rush) secara massal oleh pelanggan yang ingin mencairkan keuntungan.
Situasi sempat memanas ketika ratusan investor menggeruduk kantor pusat perusahaan di Shenzhen akhir pekan lalu untuk menuntut pengembalian modal. Menanggapi hal tersebut, otoritas Distrik Luohu, Shenzhen, pada Rabu (3/2/2026), mengumumkan pembentukan tim khusus guna menyelidiki operasional bisnis JWR yang dinilai tidak wajar.
Berdasarkan estimasi kolektif dari para investor, total dana yang belum dibayarkan oleh perusahaan diprediksi melampaui angka 10 miliar yuan atau 1,4 miliar dollar AS. Insiden ini seketika meruntuhkan kepercayaan publik terhadap pusat perdagangan emas Shuibei di Shenzhen yang selama ini dikenal sebagai jantung pasar logam mulia di China. Kejadian ini juga menjadi peringatan keras atas tingginya risiko investasi pada platform perdagangan logam tak berlisensi.
“Saya dan banyak investor lain telah melaporkan kasus ini ke polisi di kota asal kami dan di Shenzhen, dan banyak orang telah pergi ke Shenzhen secara langsung,” tulis seorang pengguna di platform media sosial RedNote (Xiaohongshu).
Dugaan Praktik Ilegal Perusahaan
Pada Oktober, Asosiasi Emas dan Perhiasan Shenzhen mengeluarkan peringatan risiko bahwa beberapa pemasok bahan emas lokal sebenarnya terlibat dalam “taruhan emas non-fisik” melalui platform online. Otoritas menduga, operasi tersebut merupakan perjudian ilegal. “Kasus-kasus ini telah mengungkap bagaimana beberapa perusahaan, dalam upaya mencari keuntungan ilegal di balik kedok perdagangan emas fisik, telah mendorong klien untuk berpartisipasi dalam taruhan berleverage tinggi,” kata peringatan asosiasi tersebut.
Deng Ping, seorang pengacara berbasis di Guangzhou yang menangani beberapa sengketa penggalangan dana swasta, mengatakan pasar sedang menunggu pemerintah untuk menyelidiki. “Keruntuhan platform investasi swasta semacam ini telah menjadi jauh lebih sering belakangan ini. Dua tahun lalu, itu adalah teh dan kripto, sekarang logam mulia,” ujarnya. ***
