January 18, 2026

Masihkah Gereja Punya Makna atau Dijauhi Karena Tidak Ada Manfaatnya?

0
Screenshot (2494)

Pdt. Domidoyo Ratupenu, Pendeta GPIB

NARASI dalam Kisah Para Rasul 5:12-16 dinafasi oleh narasi tentang pencurahan Roh Kudus. Lewat peristiwa pencurahan Roh Kudus murid-murid Yesus mempunyai keberanian tampil ke depan untuk memproklamasikan dan mewartakan tentang keselamatan dalam Kristus.

Bukan itu saja, mereka juga dengan percaya diri tegar menghadapi pengadilan agama yang mengadili mereka karena pemberitaan itu. Murid-murid yang tadinya takut tampil ke depan karena penangkapan, penyiksaan, dan kematian Kristus, kini lewat pencurahan Roh Kudus digerakan untuk maju ke depan.

Selain itu, Roh Kudus juga merubah mereka menyadari dan menghayati arti persekutuan sebagai suatu komunitas yang berbagi. Ketika ada orang yang tidak mau berbagi, dalam hal ini Ananias dan Safira, maka mereka akhirnya mati.

Di sini kita melihat pentingnya arti persekutuan sebagai komunitas berbagi yang dinafasi oleh pencurahan Roh Kudus.

Nah, bacaan kita saat ini memperlihatkan spirit yang sama, bahwa kuasa Roh Kudus memampukan para rasul untuk melakukan banyak tanda dan mujizat dengan menyembuhkan banyak orang.

Penyembuhan banyak orang mau menunjuk bahwa Allah hadir dalam kehidupan setiap individu. Kehidupan inilah yang mau disoroti dan menjadi fokus penyembuhan yang dilakukan para rasul.

Hidup manusia sungguh sangat penting dan karena itu tidak boleh disia-siakan atas nama apapun. Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah “tanda dan mujizat” menunjuk pada apa yang ditandakan, dia tidak hendak menunjuk sekedar pada tanda dan mujizat semata-mata, melainkan hendak menunjuk pada Allah, bahwa Allah berkuasa dan sangat peduli pada hidup manusia itu.

Kita tahu bahwa pada masa itu orang-orang sakit seringkali tidak lagi dianggap sebagai manusia, malah ada semacam penghayatan bahwa mereka yang sakit sesungguhnya sedang dikuasai iblis.

Jangan heran mereka tidak dianggap sebagai manusia yang benar. Mereka adalah pendosa. Lewat “tanda dan mujizat” narasi ini hendak menyatakan dan menjungkirbalikkan pemahaman masa itu yang mendiskriminasi orang, bahwa Allah peduli pada mereka dan karena itu Allah penyelamatkan mereka juga.

Tembok diskriminasi dirobohkan dan menghasilkan kesetaraan. Kepedulian Allah pada hidup manusia yang setara mengakibatkan makin lama jumlah pengkut Kristus makin bertambah, dan banyak orang menantikan kedatangan para rasul untuk menyembuhkan orang-orang yang dibawa ke jalan raya oleh teman, tetangga, atau kerabat dari mereka yang sakit.

Tanda dan mujizat menandakan juga bahwa dalam kehadiran Petrus, murid Kristus itu, sesungguhnya Kristus juga hadir dan menyembuhkan mereka.

Soal kehadiran para rasul yang dinanti-nanti oleh orang banyak ini menjadi penting untuk kita refleksikan pada kekristenan atau gereja masa kini.

Apakah gereja, orang-orang Kristen, dinanti-nanti atau ditunggu-tunggu oleh orang lain karena menghadirkan damai dan menghargai kehidupan? Atau, sesungguhnya justru kehadiran gereja/orang Kristen justru dijauhi dan dihindari orang lain karena dirasa tidak ada manfaatnya, dan yang paling ekstrem malah dihindari dan ditolak orang lain karena justru dilihat membawa  malapetaka, kebencian, dan diskriminasi karena merasa paling benar?

Narasi Kisah Para Rasul ini menjadi sangat relevan buat kehidupan bersama dalam suatu masyarakat plural di bumi Pancasila sekarang ini. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *