January 4, 2026

Rakyat Percaya Jokowi, Agenda Lama yang Nyaman Bagi Segelintir Elite Tidak akan Laku

0
Screenshot (2421)

Narasi fitnah soal ijazah palsu, utang negara, bandara Morowali, sampai skenario pemakzulan Gibran itu jelas bukan sekadar serangan personal ke Joko Widodo.

JAKARTA, Update – Kalau bicara soal orang baik, biasanya kelihatan justru saat dia dihujat dan difitnah. Dan di titik itu, banyak orang melihat gambaran Joko Widodo dengan cukup jelas.

Dihantam isu bertahun-tahun—dari ijazah, utang negara, sampai tuduhan macam-macam—reaksinya relatif sama: tenang, kerja, dan biarkan proses berjalan. Nggak sibuk balas dendam, nggak meledak-ledak, nggak juga main drama. Buat sebagian orang, itu bukan kelemahan, tapi kedewasaan.

Pernyataan itu disampaikan Ayu Rebecca di akun fb miliknya menyikapi gencarnya tudingn kubu Roy Suryo cs soal ijazah palsu. Menurut Ayu, Joko Widodo itu adalah sosok orang yang konsisten dan fokus pada tanggung jawab.

”Kritik itu perlu. Debat itu sehat. Tapi fitnah yang sistematis adalah racun. Kalau bangsa ini ingin maju, kita harus membedakan mana kritik berbasis data, mana narasi yang sengaja diproduksi untuk merusak.”

“Orang baik memang bukan berarti orang yang nggak pernah diserang. Justru sebaliknya, sering kali yang konsisten bekerja dan berdiri di jalur yang diyakini benar itu yang paling banyak kena hujat.”

Bedanya, orang baik biasanya nggak berubah jadi pahit hanya karena difitnah. Dia tetap melakukan hal yang sama: fokus pada tanggung jawabnya.”

Joko Widodo itu tipikal orang yang kalau nggak penting, ya dilewatin. Bukan tipe yang bangun pagi terus mikir, “Hari ini siapa ya yang mau saya penjarakan?” Yang ada, beliau bangun mikir proyek, kerjaan, dan urusan negara—bukan drama youtube. Kalau mau jujur, Pakdhe justru kelihatan terlalu sabar.

Narasi fitnah soal ijazah palsu, utang negara, bandara Morowali, sampai skenario pemakzulan Gibran itu jelas bukan sekadar serangan personal ke Joko Widodo. Ini pola lama, rapi, dan berulang—sebuah siasat delegitimasi untuk meruntuhkan kepercayaan publik atas langkah-langkah berani yang justru menyentuh kepentingan nasional.

Mereka paham betul: selama rakyat masih percaya dan mencintai Jokowi, agenda lama yang nyaman bagi segelintir elite tidak akan laku. Maka yang diserang bukan kebijakan secara jujur, melainkan karakter, niat, dan legitimasi. Bukan adu gagasan, tapi operasi pembusukan.

Lihat rekam jejaknya. Jokowi mengambil keputusan yang tidak populer di mata kelompok tertentu, tapi krusial bagi negara.

Pembubaran ormas radikal seperti Front Pembela Islam dan Hizbut Tahrir Indonesia dilakukan demi menjaga konstitusi dan persatuan. Larangan ekspor bahan mentah—nikel, timah, tembaga—adalah langkah strategis untuk hilirisasi dan nilai tambah di dalam negeri.

Pengambilalihan Freeport memastikan kedaulatan sumber daya. Pembubaran Petral menutup keran mafia migas yang selama ini menggerogoti negara. Ini bukan retorika; ini kebijakan dengan dampak nyata.

“Sabar Ya Bapak Joko Widodo. Untuk Hadapi para pembenci cukup tenang dan biarkan Allah yang bekerja. /fsp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *