Gereja Lebih Suka Narsis, Mencintai Diri Sendiri…

Pendeta Domidoyo Ratupenu
JAKARTA, Update – Gereja sekarang lebih suka narsis, mencintai diri sendiri dan ogah berbagi. Jangan heran gereja terasa semakin mundur dan merasa berkekurangan.
”Gereja merasa berkekurangan bukan karena kurang, melainkan karena ogah berbagi. Narsis menjadi orientasi gereja. Kalaupun mau berbagi, ujung-ujungnya ada pamrih dan minta dihormati,” kata Pendeta Domidoyo Ratupenu.
”Ada juga yang beralasan jika gereja sudah punya berkelebihan maka barulah gereja bisa berbagi. Ini seringkali menjadi alasan gereja di sepanjang abad.”
Menurut Pendeta Domi, Yesus memulai berbagi dari hanya tujuh roti. Gereja bisa meniru Yesus dengan mulai berbagi dari apa yang ada pada gereja. Jika gereja mau berbagi, maka dimasa mendatang gereja bisa melihat karya Tuhan dari hasil berbagi.
”Siapa itu gereja? Gereja adalah Anda dan saya. Mau melihat karya Tuhan? Mulailah berbagi dan jangan narsis. Jika kita mau berbagi walau dimulai hanya dari yang sedikit, maka kita bisa melihat hasilnya di masa depan, bisa sangat mencengangkan.”
Cerita dari tujuh roti tersisa tujuh bakul roti dimulai dari keinginan berbagi. Tidak dimulai dari dari keinginan berbagi dari sesuatu yang banyak, misalnya dari 4000 roti untuk 4000 orang, melainkan dari tujuh roti untuk 4000 orang. Hasilnya? Sungguh mencengangkan!
Dia, Tuhan, tidak memulai dari yang banyak, melainkan dari hanya tujuh roti dan beberapa ekor ikan. Dari tujuh roti dan beberapa ekor ikan itulah Yesus memohon berkat. Dari tujuh roti menghasilakan tujuh bakul roti setelah dibagi pada 4000 orang. Dimulai dari keinginan berbagi walau hanya tujuh roti dan beberapa ekor ikan, akhirnya menghasilkan sisa tujuh bakul roti setelah dibagi pada 4000 orang.
Yesus tidak mau menyerah dengan apa yang Dia lihat. Ada semacam optimisme dalam diri Yesus. Dia bertanya ada berapa roti yang kalian punya? Jawab mereka ada tujuh.
Yesus tergerak hatinya dan lewat cerita Markus 8:1-9 kita melihat bagaimana Yesus sendiri menyatakan bahwa Dia tergerak hati-Nya oleh belas kasihan karena melihat orang banyak yang mengikutinya selama tiga hari.
Domidoyo Ratupenu, Pendeta GPIB
