Oleh: Dr. Wahyu Lay, Penulis Ahli, EmitenUpdate.com

VICO, seorang filsuf sejarah mengatakan sejarah dibuat manusia. Karena itu ia mengatakan ilmu yang pertama kali dipelajari manusia ialah sejarah. Orang lebih gampang mempelajari yang dibuatnya sendiri. Demikian alasan yang disampaikan oleh Vico. F. Coplestone, seorang penulis sejarah filsafat yang sangat disegani mengatakan bahwa orang terpelajar dimana pun perlu memahami sejarah, bila ia ingin disebut orang terpelajar.

Kita sering tidak dapat mengatakan bahwa orang terpelajar dari suatu bangsa kalau orang itu tidak mempunyai pengetahuan dalam apapun mengenai sejarah bangsanya.

Seorang harus memhami sesuatu mengenai sejarah negerinya, politiknya, perkembangan sosial dan ekonomi, karya sastra dan seni. Dengan demikian seorang Indonesia yang menganggap dirinya terpelajar seharusnya memahami penjajahan Belanda, Perang Diponegoro, Perang Imam Bonjol, Perjuangan Cut Nya Dhien, Sumpah Pemuda, Peranan Jendral Sudirman, Pahlawan Revolusi, Karya Seni Raden Saleh, Peranan Soekarno-Hatta, dan Lukisan Affandi serta banyak hal lain lagi.

Bukan Kumpulan peristiwa Sejarah sering didefinisikan sebagai ceritera mengenai masa lampau. Cerita yang disampaikan adalah pemaparan perbuatan manusia. Tetapi pelajaran sejarah merupakan pelajaran yang tidak enak, karena yang dipaparkan hanya tanggal, tokoh, tempat.

Pelajaran sejarah sering dikaitkan dengan hafalan. Karena itu sejarah merupakan pelajaran yang membosankan. Padahal dalam sejarah sebagai pemaparan perbuatan manusia, terdapat motivasi, harapan, pengalaman, dari orang yang melakukan peristiwa bersejarah itu.

Sejarah seharusnya mesti dilihat dalam satu rangkaian peristiwa-peristiwa yang dibuat oleh seorang atau suatu kelompok. Rangkaian peristiwa ini merupakan rangkaian sebab akibat dan mempunyai dampak bagi manusia masa kini. Karena itu dalam sejarah selalu terdapat nilai yang tidak pernah lekang oleh panas dan hancur oleh hujan. Sejarah dilihat dalam suatu rangkaian.

Alasannya, manusia yang satu yang hidup di masa lampau tetap mempunyai pengaruh pada masa depan. Ia masuk dalam kelompok manusia. Ia menyumbangkan sesuatu bagi kemanusiaan. Kemanusiaan tidak dapat dilihat terkotak-kotak pada suatu zaman atau tempat.

Seni bangunan kuno tetap ada pengaruhnya bagi manusia zaman ini. Alasannya, beberapa ahli bangunan mempelajari bangunan suku kuno itu dan dengan demikian mereka membuat teori mengenai bangunan yang kuat dan sehat. Dilihat dari keseluruhan hidup manusia terdapat kontinuitas antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain.

Kontinuitas itu terdapat dalam aksi dan reaksi, ada tesis dan antithesis. Orang dapat memahami betul filsafat Plato, jika ia memahami pandangan Herakleitos, Parmenides dan Pitagoras. Orang dapat memehami posisi I. Kant dalam memandang ruang, waktu dan kategorikategori, jika orang memahami empirisme Inggris dan akibat dari sikap Skeptis David Hume.

Sejarah Dan Masa Depan Sejarah memang mengenai masa lampau. Orang berbicara mengenai peristiwa beberapa abad lalu, beberapa puluh tahun lalu. Tetapi pesan-pesan masa lampau mengkristal dalam diri kita sekarang setelah dipadu dan diuji dengan pengalaman kita sendiri. Masa kini yang disuap dan disuapi oleh masa lampau menjadi sesuatu yang terbuka bagi masa depan.

Pemahaman masa lampau membuka cakrawala pemikiran orang bagi masa depan. Manusia memproyeksi ke hari esok karena ia mengalami hidup hari kemarin. Ia menanam padi tiga bulan lalu, maka ia mengharapkan dua bulan lagi akan memanen. Pembangunan yang sekarang dalam arti tertentu berkat pengalaman masa lampau. Pembangunan yang kita laksanakan kini merupaka kritik terhadap penyataan masa lampau.

Sejarah mencatat bahwa pembangunan ekonomi kita di masa lampau kurang diperhatikan. Pendapatan per kapita rendah. Kini tidak hanya pendapatan per kapita naik, tetapi juga arus komunikasi darat, laut dan udara berkembang pesat. Sejarah harus dilihat dengan kritis. Tidak boleh diterima begitu saja. Sejarah sebagai fakta harus diterima begitu saja. Tetapi nilai dari semua peristiwa itu tidak sama.

Dampaknya bagi kehidupan kita juga tidak sama. Kita perlu memahami bahwa setiap fakta mempunyai pesan. Peristiwa G-30-S/PKI adalah peristiwa yang mempuyai pesan yang begitu pahit bagi bangsa ini. Perayaan peristiwa bersejarah mengundang kita untuk melihat kembali masa lampau, menghidupkan kembali idealisme.

Idealisme yang dulu pada awalnya sangat segar dan tegar, kini perlu dikaji lagi. Tidak mustahil bahwa erosi terjadi dalam idealisme kita. Setiap 1 Oktober kita merayakan Hari Kesaktian Pancasila. Setiap 10 November kita memperingati jasa-jasa pahlwan kita. Kita sendiri pun mempunyai peristiwa-peristiwa yang bersejarah yakni HUT, Hari Perkawinan, Hari Lulus Ujian, dan sebagainya. Orang sering lupa akan hal yang sudah dijanjikan. Setiap tanggal 17 Agustus kita merayakan hari Proklamasi.

Kita merayakannya agar kita mengingat kembali idealisme yang pernah dicanangkan oleh bapak-bapak bangsa ini. Kita merayakan hari perkawinan, agar idealisme, kesetiaan yang pernah diucapkan tidak dilupakan oleh aneka macam masalah dalam kehidupan bersama. Suatu bangsa atau lembaga hancur karena idealisme yang dulu, kini dilupakan.

Idealisme yang ada pada fakta sejarah itu perlu mendapat interpretasi baru agar tetap relevan. Perjuangan sebelum tahun 1945 ditujukan melawan penjajah. Tetapi kini, idealism yang terdapat pada usaha kemerdekaan itu ditujukan pada pemberantasan kemiskinan dan kebodohan. Seorang yang melupakan sejarah adalah orang yang hidup tanpa akar dan juga menuju masa depan dengan langkah gontai. ***

By emiten

Leave a Reply

Your email address will not be published.